Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

BUNG KARNO SANG PENCIPTA PANCASILA

Notonagoro adalah seorang Guru Besar terkemuka, eksponen UGM dan pendiri Fakultas Filsafat UGM sejak tahun 1967. Salah satu misi pokok didirikannya fakultas itu adalah melanjutkan kekaryaan ilmiah Notonagoro, yakni untuk mengembangkan Pancasila secara ilmiah dan filsafati. Sebagaimana sering diungkapkan olh Dr. P.J. Suwarno dan Drs. G. Moedjanto, M.A. dari Universitas Senata Dharma, berbicara tentang Pancasila tidak akan terlepas dari segi sejarah – secara khusus sejarah kelahiran Pancasila itu sendiri.
Berpuluh-puluh tahun bukan saja murid sekolah, melainkan seluruh rakyat Indonesia mengenal 1 Juni sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Perayaan hari kebesaran itu bukan karena terlanjur dicantumkannya hari itu sebagai hari besar kebangsaan oleh para pencetak kalender, akan tetapi bersumber pada fakta sejarah. Selanjutnya fakta itu dikuatkan oleh serangkaian analisis ilmiah filsafati Notonagoro, antara lain dengan menggunakan data mentah notulensi Sidang BPUPKI/PPKI. Salah satu kesimpulannya, Soekarno adalah pencipta Pancasila
Maka tidak mengherankan bila dalam penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Soekarno pada tanggal 19 September 1951 oleh UGM, Notonagoro dipercaya sebagai wakil senat UGM untuk melakukan tugas promotor dalam promosi honoris causa tersebut. Berkatalah Notonagoro, “Paduka Yang Mulia adalah pencipta Pancasila… Paduka Yang Mulia adalah yang untuk pertama kalinya melahirkan dan mengusulkan Pancasila sebagai dasar filsafati negara pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.”
Hanya oleh kerendahan hati saja kemudian Soekarno menolak disebut sebagai pencipta Pancasila, melainkan sekedar “penggali” Pancasila. Namun pada pertengahan tahun 1970-an, senyampang bergulirnya arus politis de-Soekarnoisasi secara gencar telah mengalirkan arus tersebut ke sekian kanal, termasuk kanal ilmiah.
Seorang sejarawan dari ABRI, Nugroho Notosusanto melakukan penelitian ilmiah kontroversial yang membuat kesimpulan bahwa penggali Pancasila bukan cuma Soekarno, melainkan juga Muhammad Yamin dan Soepomo. Sejak saat itulah dalam Penataran P4 dan buku-buku sejarah kebangsaan dimasukkan “teori” baru bahwa tanggal 1 Juni bukanlah hari lahirnya Pancasila.
Salah satu isi penelitian Nugroho Notosusanto adalah membedakan Pancasila 1 Juni 1945 dengan “Pancasila” Yamin 29 Juni 1945, demikian juga dengan Pancasila 18 Agustus 1945 yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Nugroho Notosusanto berusaha memisahkan Pancasila Soekarno dengan Pancasila di dalam Pembukaan UUD 1945. Bahkan ia menyatakan bahwa sila kedua Pancasila gagasan Bung Karno (Peri Kemanusiaan/Internasionalisme), mudah diinterpretasikan sebagai Internasionalismenya kaum komunis. Untunglah waktu itu masih cukup banyak founding fathers negara yang masih hidup seperti Bung Hatta, Ir. Rooseno, Baswedan, K.H. Masjkur, Achmad Subardjo, A.A. Maramis, Sayuti Melik dan Sunario. Para bapak negara-bangsa itu semuanya menyatakan bahwa Pancasila itu dari Bung karno.
Bahkan Bung Hatta yang sejak zaman pergerakan sampai zaman Indonesia merdeka sering kali bertentangan dan banyak dikecewakan oleh Bung karno, tetap berpegang pada fakta sejarah. Dalam masa kekuasaan rezim Orde Baru yang antiSoekarnoisme, sebuah surat wasiat kepada Guntur Soekarno Putra menyangkut lahirnya Pancasila memberi kesaksian bahwa Soekarno adalah penggali Pancasila
Adapun Nugroho Notosusanto berpegang pada apa yang dianggapnya fakta sejarah pula, yakni pidato lisan dan lampiran tertulis Moh. Yamin di depan BPUPKI tanggal 29 Mei 1945. Pidato itu termuat dalam buku Moh. Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945, jilid I yang sisinya berasal dari risalah rapat-rapat BPUPKI/PPKI di tahun 1945. Oleh Nugroho buku itu dianggap sebagai sumber primer, dan itulah memang sumber tunggal dalam penelitiannya.
Tidak satupun koleganya kaum sejarahwan mendukung kesimpulan ilmiah Nugroho itu. Sejumlah sejarahwan semisal Abdurrachman Surjomihardjo, Kuntowijoyo, Ong Hokham, G. Moedjanto dan R. Nalenan justru mengkritik baik eksplisit maupun implisit, antara lain bahwa Nugroho tidak melakukan kritik sumber.
Tatkala berceramah di Makasar, Bung Hatta dikritik oleh mahasiswa karena menyatakan Pancasila itu dari Soekarno dan mahasiswa itu menyebut Yamin. Hatta pun bertanya dari mana mahasiswa tahu? Dijawab oleh sang mahasiswa, “Dari buku Yamin”, Hatta pun menyatakan, “Buku itu tak benar!”
Bung Hatta hadir ketika Yamin berpidato 29 Mei 1945 dalam sidang BPUPKI sehingga tahu betul bahwa isi pidato itu lain dari yang dimuat dalam buku Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945 itu.
Sewaktu Sunario bertanya tentang pidato Yamin yang dicantumkan dalam bukunya tersebut tak urung Bung Hatta menukas, “Tidak benar; Bung Yamin agak licik; sebenarnyapidato itu adalah yang diucapkan dalam panitia kecil.” (Hatta, et.al., 1977,75)
Panitia Kecil adalah panitia yang dibentuk oleh BPUPKI selepas Bung Karno berpidato 1 Juni 1945, sebelum dibentuk lagi Panitia Sembilan. Sebagaimana dijelaskan Bung Hatta, “Rapat Panitia Sembilan dimulai kira-kira pertengahan Juni. Selesai diskusi tentang itu Bung Karno minta Mr. Muhammad Yamin merumuskan hasil pertukaran pikiran dalam Panitia Sembilan. Maka sebagai hasilnya terdapat rumusan pendek. Setelah diubah sana-sini terdapatlah piagam yang kemudian disebut Piagam Jakarta. Tetapi Bung Karno menganggap rumusan itu terlalu pendek untuk dijadikan preambule undang-undang dasar. Maunya dalam preambule itu terdapat gambar cita-cita dan sejarah perjuangan kita. Maka Mr. Muhammad Yamin membuat suatu preambule baru, yang dianggap oleh Panitia terlalu panjang dan tidak tepat untuk dijadikan preambule. Dan itulah barangkali yang dimasukkan oleh Mr. Muhammad Yamin dalam buku Naskah Persiapan UUD 1945 sebagai pidatonya sendiri.” (Sejarah Lahirnya UUD 1945 & Pancasila, 1984)
Kemudian datanglah saat ketika seorang pakar dari Universitas Indonesia, Ananda B. Kusuma, menemukan Pringgodigdo Archive yang semula berada di Belanda dan tersimpan di Puro Mangkunegaran Surakarta. Lewat menantu Yamin, GRA Satuti Yamin yang adalah puteri keraton tersebut, dosen UI itu mentranskripsikan dokumen yang amat berharga tadi. Beberapa petikannya
adalah sebagai berikut:
(i)Kalimat, “Saya meminta perhatian, bahwa dalam rapat tanggal 29 Mei dulu saya telah melampirkan suatu rancangan UUD Republik Indonesia” yang diucapkan Muhammad Yamin dalam sidang BPUPKI tanggal 10 Juli 1945 (Naskah Persiapan UUD 1945-nya Yamin) ternyata tidak ada dalam Pringgodigdo Archive yang menghimpun notulen asli sidang tersebut.
Dipastikan bahwa dalam pidatonya 29 Mei 1945 itu Yaminn tidak melampirkan Rancangan UUD RI sebagaimana tercantum dalam bukunya di halaman 721 sampai 728.
(ii)Pada sidang BPUPKI hanya Ir. Soekarno yang mengemukakan Dasar Negara yang bersila lima.
(iii)Pringgodigdo Archive memuat catatan berapa lama masing-masing anggota berpidato pada 29 Mei 1945, yakni MRM. Yamin (20 menit), Tn. Soemitro (5 menit), Tn. Margono (20 menit), Tn. Sanusi (45 menit), Tn. Sosrodiningrat (5 menit), Tn. Wiranatakusumah (15 menit).
Jumlah waktu yang diperlukan bagi pembicara adalah 110 menit dari seluruh waktu yang disediakan selama 130 menit. Ternyata pada dokumen Pringgodigdo Archive itu sudah “tercemar” dengan adanya tambahan angka 1 pada pidato M. Yamin sehingga menjadi 120 menit. Indikasinya ialah jika dicermati benar maka pada angka 1 tambahan itu, tertera titik di atasnya (i), padahal keseluruhan angka 1 pada dokumen tersebut tidak ada memakai “titik” di atasnya.
Belum diketahui pasti siapa yang mencemari dokumen historis tersebut dan dengan maksud apa. Ananda B. Kusuma menyatakan, bila dilakukan kritik sejarah terhadap dokumen ini adalah tidak mungkin M. Yamin memperoleh alokasi waktu 120 menit, karena menurut risalah, sidang berlangsung 130 menit sehingga sulit diterima akal bahwa lima pembicara lainnya hanya memakan waktu 10 menit!
Dengan demikian, menurut B. Kusuma perkiraan Nugroho bahwa Muhammad Yamin Naskah Persiapan UUD 1945 kata demi kata (woordelijk) sama dengan notulistischerslag sidang BPUPKI ternyata tidak benar. Secara lebih simple, G. Moedjanto menyatakan keheranannya, jika benar Yamin sudah berpidato lebih dahulu dari Bung Karno yang mirip Pancasila, kenapa nama “Pancasila” diberikan kepada Bung Karno dan tidak untuk menamakan pidatonya sendiri? Moedjanto juga mencatat kejanggalan pidato Yamin 29 Mei itu, yakni pada alinea terakhir berbunyi: “Dua hari yang lampau tuan Ketua memberi kesempatan kepada kita sekalian juga boleh mengeluarkan perasaan”. Dua hari yang lampau berarti tanggal 27 Mei; padahal BPUPKI sendiri baru dibentuk 28 Mei 1945.
Maka itu gugur pulalah tesis Nugroho Notosusanto yang memperdebatkan antara Pancasila dalam 1 Juni 1945 dengan Pancasila yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. UGM dalam promosi Doktor Honoris Causa kepada Bung Karno tahun 1951 itu menyatakan, “Maka oleh karena itu Pancasila yang tercantum dalam masing-masing Undang-Undang Dasar kita dalam isi-artinya yang pokok adalah Pancasila ciptaan Paduka Yang Mulia. Tidak kita kurangkan, bahkan kita hargai jasa para Pembentuk Undang-Undang Dasar masing-masing”.
Maksud Notonagoro selaku penyusun pidato promosi itu yakni dalam ketiga konstitusi yakni UUD 1945, UUDS 1945, Konstitusi RIS, yang dalam Pembukaan UUD-nya menyebutkan Pancasila adalah keseluruhannya Pancasila yang “diciptakan” Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPKI.
Sebelum terbitnya publikasi penelitian Nugroho tahun 1981 yang oleh sementara dianggap tak lebih sebuah pamfler politik itu, jika dibaca buku-buku karangan tokoh dan ilmuwan akan jelas bahwa Pancasila adalah hasil pikiran Soekarno. Tak ada satu pun buku yang menyebut peranan Yamin, Soepomo dan entah siapa lagi selain Bung Karno.
Soediman Kartohadiprodjo (Universitas Parahyangan Bandung) menyatakan: “Mengenai ini, pertama-tama ingin kita kemukakan bahwa kalau kita (bangsa Indonesia) hingga kini berbicara tentang Pancasila maka yang kita maksudkan adalah tidak lain daripada pidato Ir. Soekarno yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945, dan bukan Pancha Sila dari almarhum Nehru atau lima pokok yang disebut oleh almarhum Moh. Yamin dalam pidatonya pada tanggal 29 Mei 1945.” (Kartohadiprojo, 1968)
Dari Moh. Yamin sendiri sesungguhnya berulang kali menyatakan dalam bukunya – yang tidak dibaca oleh Nugroho Notosusanto – bahwa penggali Pancasila itu Bung Karno. Salah satunya ialah pidatonya tanggal 5 Januari 1958 dalam peringatan kenegaraan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1958. “Untuk penjelasan ingatlah beberapa tanggapan sebagai pegangan sejarah: 1 Juni 1945 diucapkan pidato yang pertama tentang Pancasila…, tanggal 27 Juni 1945 segala ajaran itu dirumuskan di dalam satu naskah politik yang bernama Piagam Jakarta … dan pada tanggal 18 Agustus 1945 disiarkanlah Konstitusi Republik Indonesia, sehari sesudah permakluman kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam konstitusi itu pada bagian pembukaan atau Mukadimahnya dituliskan hitam di atas putih dengan resmi ajaran filsafat Pancasila…,” demikian Yamin.
Buku otobiografi Soekarno sendiri yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dalam satu bab penuh (yakni Bab 25 “Permulaan dari pada Akhirnya”) menerangkan dengan gamblang bagaimana Bung Karno gelisah dan mengunjukkan ke hadapan Allah untuk pidatonya 1 Juni 1945 itu. “Di pulau Bunga yang sepi tidak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenungkan di bawah pohon kayu. Ketika itu datang ilham yang diturunkan oleh Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila. Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah,” demikian kata Bung Karno.

(ditulis kembali dari tulisan Drs. Slamet Sutrisno dalam bukunya Kontroversi dan Rekonstruksi Sejarah)

Agustus 10, 2009 Posted by | sejarah | , , , , , | 2 Komentar

6 SUTRADARA G 30 S/GESTAPU/GESTOK

Kita tahu banyak spekulasi tentang siapa orang dibalik tragedi paling berdarah di Indonesia ini. Versi resmi pemerintah Orde Baru menyatakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalangnya. Namun setelah reformasi menggulingkan Orde Baru penulisan sejarah tentang peristiwa ini mengalami rekonstruksi. Banyak sumber yang sekarang mulai digali kembali dan sumber-sumber pemerintah mulai diselidiki kebenarannya. Berdasarkan perkembangan penulisan sejarah versi terbaru berkembang beberapa catatan tentang siapa orang dibalik G 30 S/Gestapu/Gestok. Sedikitnya ada 6 teori yang menyatakan bahwa dalang di balik tragedi ini ada 6 pihak dan akan kita coba ulas dalam tulisan ini.
Pertama dan yang paling diyakini serta telah divoniskan oleh Orde Baru adalah PKI. Mengapa PKI? Ada beberapa hal yang menguatkan keterlibatan PKI. (1) Bukti-bukti formal mengarah ke PKI antara lain: lokasi penemuan jenazah 7 pahlawan revolusi terletak di Lubang Buaya yang merupakan basis PKI dan keterangan serta kesaksian para pelaku di pengadilan. (2) Motif PKI untuk meraih kekuasaan sebelum didahului oleh TNI Angkatan Darat setelah Presiden Soekarno mangkat. (3) Sejarah kelam PKI yang sebelumnya sudah dua kali berusaha merebut kekuasaan pemerintah yaitu tahun 1928 dan Peristiwa Madiun 1948. (4) Kecenderungan Indonesia yang dekat dengan Cina yang berarti menguatkan PKI di mata internasional. (5) Kekuatan Indonesia yang melemah karena dikerahkan untuk gerakan “Ganyang Malaysia”. Motivasi PKI untuk melakukan gerakan ini adalah karena PKI telah merasa cukup kuat posisinya. Hal ini disebabkan oleh dua hal yaitu PKI merupakan partai empat besar pemenang pemilu 1955 dan memiliki mesin politik yang kuat bahkan telah menempatkan orang-orang PKI di organisasi-organisasi lainnya yang menjadi lawannya termasuk TNI Angkatan Darat.
Kedua adalah Cina komunis. Mengapa Cina terlibat? Selama ini Cina tidak pernah disebut sama sekali sebagai dalang G 30 S. Ada beberapa hal yang menyebabkan saya mencantumkannya sebagai salah satu suspect aktor G 30 S. (1) Cina melihat bahwa kedudukan PKI di Indonesia sudah kuat sehingga sudah waktunya untuk mengambil kekuasaan sama seperti halnya komunis mengambil alih kekuasaan pemerintah Cina. (2) Cina membutuhkan dukungan Indonesia untuk berpolitik di pentas internasional karena umur Cina relatif muda seperti Indonesia. (3) Cina ingin menyaingi komunis Soviet yang sangat besar untuk menjadi salah satu negara adikuasa. (4) Kedekatan Cina dan Indonesia dalam melawan kapitalisme Amerika. Cina masih belum puas jika Soekarno masih didekati oleh orang-orang dekatnya dari TNI Angkatan Darat yang antikomunis. Modus keterlibatan Cina adalah berupa bantuan senjata, dana dan iklim politik terhadap gerakan ini. Selain itu dengan mengundang sejumlah besar pejabat tinggi Indonesia untuk merayakan hari ulang tahun Cina tanggal 1 Oktober 1965 agar terjadi kekosongan kekuasaan di Indonesia sehingga gerakan ini dapat berjalan lancar. Lalu mengapa tidak dijadikan dalam satu aktor saja yaitu PKI karena mungkin saja PKI bergerak atas petunjuk Cina. Jawabannya adalah bisa ya bisa tidak. Ya karena ada korelasi dan interaksi antara komunis Cina dan komunis Indonesia. Tidak, karena saat itu para pimpinan puncak PKI seperti D.N. Aidit adalah seorang komunis lulusan Moskwa sehingga mungkin saja ia ingin kiblatkan Indonesia ke Soviet bukan ke Cina. Selain itu, orang-orang Cina kurang akomadtif dengan PKI yang memiliki basis massa petani dan buruh. Orang-orang Cina di Indonesia adalah orang-orang Cina yang tidak berpaham komunis melainkan kapitali yang melarikan diri dari pemerintah Cina. Secara tidak sadar komunis Indonesia sedang bersaing dengan komunis Cina. Di bawah pemerintahan Soekarno dengan politik luar negeri “Mercusuar” ingin menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia. Demikian pula Cina ingin melepaskan cengkeramannya dari komunis Soviet sehingga kebijakan luarnegerinya berusaha lebih superior dan dengan demikian akan saling bertentangan dengan kebijakan luar negeri Indonesia walaupun sama-sama antikapitalisme Amerika.
Ketiga adalah Soekarno. Mengapa Soekarno ikut terlibat dalam gerakan ini? Bukankah itu berarti ia mengudeta dirinya sendiri? Tetapi mungkin saja Soekarno membuat skenario kudeta terhadap dirinya agar memperoleh simpati dari rakyat dan menghukum musuh-musuh politiknya yang dituduh ikut terlibat dalam gerakan kudeta tersebut. Skenario pertama adalah Soekarno ingin menyingkirkan perwira-perwira tinggi TNI Angakatan Darat yang berseberangan dengan dia karena ketidaksetujuan mereka terhadap ajaran NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis)yang mengikutkan komunis sebagai bagian dari ajaran bangsa. Skenario kedua adalah Soekarno memang ingin membersihkan bangsa dan negara Indonesia dari komunis. Skenario yang kedua ini memang sangat sulit dibuktikan mengingat banyak sekali orang di lingkaran dekat Soekarno yang berafiliasi dengan komunis. Bahkan jajaran kabinetnya dipenuhi dengan orang-orang PKI. Namun, mau tidak mau Soekarno haru mengambil keputusan terhadap desakan kaum nasionalis dan agama yang didukung TNI untuk memberangus komunis. PNI sendiri yang merupakan partai bentukan Soekarno sudah jauh-jauh hariu berseberangan dengan PKI. Soekarno bisa saja beralasan tidak bisa menghalangi komunisme karena massanya yang sangat besar yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Namun, tindakan-tindakan provokatif dan subversif PKI membuat rakyat Indonesia menjai antipati terhadap komunis. Oleh karena itu, Soekarno harus mengambil keputusan. Bukti selanjutnya adalah keberadaan Soekarno di Bandara Halim Perdanakusuma bersama salah satu aktor G 30 S, Brigjen Soeparjo. Setelah pemberitauan Brigjen Soeparjo kepada Soekarno bahwa telah ada gerakan mengambil Dewan Jenderal, Soekarno tidak mengambil sikap yang tegas untuk memberantas gerakan ini.
Keempat adalah Soeharto. Isu keterlibatan Soeharto mulai mencuat setelah ia berhasil digulingkan dari kekuasaannya. Beberapa bukti yang menguatkan keterlibatannya bahkan menjadi dalangnya adalah (1) pengakuan Kolonel A. Latief bahwa ia sudah dua kali memberitahukan kepada Soeharto tentang rencana penindakan terhadap sejumlah jenderal namun Soeharto tidak mengambil inisiatif melapor kepada atasannya dan malah diam serta manggut-manggut. (2) Soeharto tidak termasuk sasaran gerakan kudeta ini mengingat ia adalah salah satu perwira tinggi TNI Angkatan Darat dengan fungsi komando di bawah Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal A. Yani dan strategisnya posisi Kostrad apabila negara dalam bahaya. (3) Hubungan emosional yang cukup dan amat dekat Soeharto dengan para pelaku G 30 S/Gestapu/Gestok yakni Letkol Untung dan Kolonel Latief. Sedangkan Sjam Kamaruzaman termasuk kolega Soehato di tahun-tahun sesudah Proklamasi. (4) Pernyataan istri Soekarno Ratna Sari Dewi yang bersifat subjektif jadi tak bisa dipakai sebagai bukti bahwa sejak pagi 1 Oktober Soeharto sudah mempropaganda bahwa pelakunya adalah PKI. Sepertinya Soeharto sudah tahu semua, seakan telah direncanakan. Bagaimana ia bisa segera menguasai Indonesia? Harus diingat, sistem komunikasi saat itu belum seperti sekarang. Teleponnya belum lancar dan tak ada yang punya telepon genggam. Bagaimana Soeharto bisa memecahkan masalah yang terjadi pada malam 30 September dan segera bertindak? Begitu cepat. Kalau belum tahu rencana G 30 S, ia tidak mungkin bisa melakukannya. (5) Hubungan konflik antara Soeharto dengan para korban G 30 S. Soeharto yang lebih senior ternyata ditempatkan di bawah Jenderal A. Yani yang menjadi atasannya sebagai Panglima Angkatan Bersenjata yang membawahi Panglima Komando Strategi Angkatan Darat. Sedangkan, Letjen Soeprapto, Letjen S. Parman, Letjen Harjono M. T., Mayjen Soetojo dan Mayjen D.I. Panjaitan pernah mengadili Soeharto dalam kejahatannya menyelundupkan barang-barang milik negara saat ia menjadi Komandan Divisi Diponegoro.
Kelima adalah TNI Angkatan Darat. Mengapa TNI AD melakukan gerakan berdarah ini. Jawabannya bukan untuk mengambil alih kekuasaan melainkan untuk menyelamatkan Soekarno dari upaya-upaya buruk pimpinan TNI AD. Hal ini menunjukkan adanya konflik internal di dalam tubuh TNI AD. Gerakan TNI AD ini bukan dilakukan oleh pimpinan TNI AD melainkan perwira menengah yang berarti tindakan ini tidak dapat mengatasnamakan gerakan TNI AD. Hal-hal yang menguatkan keterlibatan perwira menengah AD adalah (1) pernyataan pelaku gerakan Kolonel Latief bahwa ia hanya ingin menghadapkan Dewan Jenderal kepada Soekarno. Lalu mengapa korban G 30 S malah dibunuh? Hal ini dikarenakan instruksi Sjam Kamaruzaman bila mengalami kesulitan menghadapi para jenderal, diambil hidup atau mati. Mengapa perwira TNI AD mematuhi perintah Sjam yang merupakan orang PKI? Bukankah ini berarti dalang gerakan ini adalah PKI dan bukan perwira menengah TNI AD? Tidak dapat dipungkiri bahwa PKI juga menyusup ke tubuh TNI AD. Namun, PKI tidak memiliki daya untuk mengontrol perwira menengah ini walaupun PKI bisa saja mendoktrinasi mereka. Jangan lupa bahwa doktrin nasionalisme dalam sekolah-sekolah miiter juga sangat kuat sehingga tidak serta merta doktrinasi komunis dapat berhasil terhadap para perwira menengah ini. Selain itu, perwira menengah TNI AD ini sudah merencanakan gerakan ini jauh sebelum PKI bergabung ke dalam tubuh TNI. Sjam sendiri baru bergabung setelah diberi informasi bahwa ada sebagian perwira menengah yang tidak puas dengan pimpinan TNI AD. Sjam masuk melalui Mayor Udara Sujono yang memperkenalkannya kepada Letkol Untung. (2) Daftar Dewan Revolusi yang disusun dan ditetapkan serta diumumkan oleh Letkol Untung setelah gerakan berhasil menguasai RRI ternyata tidak satu pun memasukkan nama pimpinan PKI. Yang ada adalah wakil komunis yang hanya satu yaitu Tjugito. (3) Pernyataan Letkol Untung bahwa G 30 S adalah gerakan militer dalam tubuh Angkatan Darat yang murni dan internal Angkatan Darat.
Keenam adalah Central Inteligence Ageny (CIA) Amerika Serikat. Alasan-alasan keterlibatan CIA tidak lepas dengan masalah politik internasional yang saat itu sedang terjadi Perang Dingin antara Kapitalisme Amerika dengan Komunisme Uni Soviet. Amerika berkepentingan untuk melepaskan Indonesia dari cengkeraman komunis karena posisinya yang strategis. Bukti yang menguatkan ketelibatan Amerika melalui CIA adalah (1) adanya Dokumen Gilchrist. Memang bisa saja dokumen tersebut palsu dan hasil propaganda PKI namun mengingat tempat ditemukannya adalah di sebuah vila milik agen CIA maka keterlibatan CIA perlu dikaji. (2) Laporan Dubes pada 1964 “bahwa Indonesia akan jatuh ke tangan Barat seperti apel busuk. Dinas Rahasia Barat akan mempersiapkan suatu kup komunis pra dini/prematur yang akan memberi peluang dan legitimasi bahi militer untuk menumpas PKI dan menjadikan Soekarno sebagai tahanan militer. (3) Perkembangan politik Internasional dengan kekalahan Amerika di Perang Vietnam yang berarti jatuhnya Vietnam ke tangan komunis akan menimbulkan efek domino atau ikut jatuhnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara ke tangan komunis.

Agustus 8, 2009 Posted by | politik, sejarah | , , , , , , , , , | 2 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.