Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Soeharto: Rise to Power

Nama Soeharto menjadi pilihan Presiden Soekarno menjadi pengemban Supersemar. Tentu tidak tanpa alasan, mengingat Presiden Soekarno tidak terlalu mempunyai banyak pilihan. Pada masa-masa tersebut, kekuatan Presiden Soekarno telah terdegradasi pada titik nadir. Kekuatan utama Presiden Soekarno telah dengan sistematis dihancurkan yaitu PKI dan Angkatan Darat. PKI tidak pelu kita diskusikan di sini. Dengan gagalnya Gerakan 30 September, PKI dipukul habis. Lalu mengapa Angkatan Darat? Ya, barisan Jenderal AD yang setia telah sedemikian rupa sehingga diadu domba dan sebagian bahkan dibunuh saat peristiwan Gerakan 30 September.

Kembali ke nama Soeharto. Bagaimana nama tersebut bisa muncul ke panggung politik utama Indonesia pada masa itu? Kita tahu bahwa masih banyak barisan perwira senior selain Soeharto yang bisa ditunjuk sebagai pengemban Supersemar. Sebut saja Jenderal Murjid, Jenderal Pranoto, Jenderal Sarbini, Laksamana Muljadi, Mayjen Hartono, Komodor Sri Muljono Herlambang, dan lain-lain. Dengan peta politik yang berkembang pesat saat itu, bintang keberuntungan jatuh pada Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Komanda Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Apa yang menyebabkan Soeharto naik ke puncak kekuasaan?

Kita tahu bahwa dalam lingkungan tentara atau militer terdapat faksi-faksi yang mempunyai kepentingannya masing-masing. Sejak awal kemerdekaan tentara, khususnya Angkatan Darat, sudah terbelah dalam beberapa kelompok walaupun tidak tampak secara eksplisit. Kepentingan atau pembedanya itu bisa dari banyak hal, misalnya saja: lulusan KNIL atau PETA, Jawa atau Luar Jawa, Kiri atau Kanan.

Nah dalam hal inilah Soeharto tidak terjebak. Ya Soeharto tidak mengikuti arus politik dalam internal Angkatan Darat. Ditambah lagi perannya yang sangat besar dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 membuat dia karirnya melesat. Orang yang paling berjasa dalam karir Soeharto adalah Jenderal Gatot Subroto. Ketika Nasution hendak memecat Soeharto karena pelanggarannya saat menjadi Pangdam Diponegoro, Gatot Subroto-lah yang menyarankan untuk sekedar memutasi Soeharto Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat).

Titik balik Soeharto adalah penunjukkannya sebagai Panglima Mandala Operasi Pembebasan Irian Barat. Mengapa Soeharto yang dipilih sebagai Panglima Mandala padahal ia pernah hamper dipecat karena korupsi? Pertama, Presiden Soekarno memandang Soeharto sebagai perwira yang minim kepentingan. Soeharto tidak terlibat politik di lingkaran Soekarno sebagaimana perwira-perwira lain seperti Nasution dan Yani. Kedua, tidak ada resistansi dari setiap golongan yang memiliki kepentingan di Angkatan Darat. Nasution yang saat itu menjadi musuh utama Presiden Soekarno di Angkatan Darat melihat bahwa Soeharto juga bukan orang dekat Presiden Soekarno. Ketiga, pengalaman strategi Soeharto cukup mendukung operasi ini. Soeharto bukan perwira administrasi di belakang meja. Pengalamannya di Serangan Umum 1 Maret 1949 cukup diperhitungkan.

Keberhasilan Operasi Pembebasan Irian Barat mengantarkan Soeharto duduk sebagai Panglima Komando Strategi Angkatan Darat. Ketika Angkatan Darat membutuhkan seorang pemimpin saat terjadinya kekosongan komanda pasca Gerakan 30 September maka Soeharto-lah orang yang beruntung. Walaupun masih banyak perwira lain yang memiliki pangkat yang tinggi, namun perwira lain tidak memegang komando atas satuan strategis yang mampu mengerahkan pasukan. Perwira-perwira lain hanya memangku jabatan-jabatan administrasi ataupun komando-komando strategis tingkat daerah seperti Pangdam.

Nasution sendiri sebagai perwira paling senior setelah gugurnya Jenderal Achmad Yani dalam Gerakan 30 September sudah dipreteli terlebih dahulu oleh Presiden Soekarno dari jabatan-jabatan strategis. Melihat perkembangan situasi, Nasution segera mendukung Soeharto membentuk poros baru yang berhadapan dengan Presiden Soekarno terkait komunis. Walaupun masih banyak perwira yang siap mendukung Presiden Soekarno saat itu, namun demi menghindari perang saudara, Presiden Soekarno tak mengerahkannya. Dalam hal ini, Presiden Soekarno melakukan hal yang dapat dinilai sebagai suatu kesalahan yaitu melindungi PKI. Hal itu dapat dipahami karena Presiden Soekarno telah mengajarkan prinsip NASAKOM (Nasionalis Agama Komunis) sebagai bentuk demokrasi yang mewakili seluruh rakyat Indonesia. Namun sejak Gerakan 30 September makin banyak perwira yang berbalik menentang kebijakan NASAKOM ini.

Demikianlah proses di mana Soeharto merangkak naik dalam percaturan politik nasional hingga pada akhirnya mengemban Supersemar yang mengantarkannya menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia pada 1967 hingga menjadi Presiden definitive paling lama di Indonesia

Juni 12, 2016 Posted by | politik, sejarah | , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Kristen dan Kejawen (Agama Jawa)

*Disadur dari buku “Menyongsong Sang Ratu Adil” karya Bambang Noorsena

 

Injil pertama kali diwartakan di Nusantara pada tahun 645. Syekh Abu Al-Armini dalam bukunya Tadhakur fiiha akhbar min al-kana’is wa al-adyar min nawahin Mishr wa al-iqthaaih, menyebut 707 gereja dan biara Kristen Syria yang tersebar pada abad ke-7, termasuk Fansur (Pansur), Barus di Sumatera. Selanjutnya, Abd ‘Isho dari gereja Syria Timur (1291-1319), yang menyebut juga Sumatera. Begitu juga catatan pejalanan Uskup Joa de Merignolli, selaku Duta Clement VI, menghadap ratu Kerajaan Sriwijaya tahun 1346 (YWM. Bakker, SJ. Sejarah Gereja Katolik Indonesia Jilid I)

 

Sehubungan dengan kenyataan itu, harus dicatat bahwa sebenarnya kekristenan masuk ke Nusantara hamper bersamaan dengan masuknya agama Budha pada abad ke-7. Namun, jejak yang ditinggalkan sulit dilacak pengaruhnya karena telah punah sebelum berhasil mengakar pada budaya masyarakat.

 

B.M. Schuurman dalam karya dogmatikanya, Pambiyake Kekeraning Ngaurip, menjelaskan tentang dalan tratasan. Yang dimaksudkan adalah “jalan keluar dari belantara dunia”. Untuk menuju ke sana atau konkretnya untuk menuju ke Allah, seseorang harus mengenal dirinya sendiri. “Demikian dalam Kawruh Jawa Kuno, sudah dibedakan antara makrokosmos (jagad besar, alam semesta) dan mikrokosmos (jagad kecil, diri manusia). Di antara keduanya yang lebih penting adalah mengenal dirinya sendiri.” Tulis Schuurman. Hal ini mengingatkan pada sebuah hadits Nabi: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

 

Salah satu ciri dominan dari Kejawen adalah unsur antinomisme. Istilah ini secara harfiah sepadan dengan ungkapan Jawa yaitu murang sarak yang berarti menentang syariah. Dalam Serat Sastra Gendhing, Sultan Agung mengatakan bahwa syariah adalah tataran ibadah awal yang bersifat lahiriah. Dalam Serat Wedhatama mengistilahkan sembah raga yang masih harus ditingkatkan pada tahapan yang lebih halus: sembah cipta, sembah kalbu,dan, sembah rasa. Suatu penjawaan dari jalan pendakian tasawuf: syariah, Tariqah, Haqiqah, dan, Ma’rifah. Suluk Malang Sumirang, menawarkan Islam batin: tanpa shalat, tanpa puasa, dan tanpa hukum halal-haram. Bagi Sunan Panggung, murid Syech Siti Jenar, orang yang sudah sampai rasa sejati, ibadahnya tidak bersifat fisik lagi, bahkan “shalat lahiriah siang malam, kemungkinan bisa menjadi pemberhalaan.”

 

Iman Kristen sebenarnya dapat disebut sebagai “ngelmu tuwa”. Bahkan ngelmu yang paling tuwa daripada segala ilmu, yang dalam Kejawen dianggap sebagai suatu kekeran (rahasia). Dalam bahasa orang Kebatinan, dalam kodrat ganda Kristus itu sekaligus ditemukan Gustining Jagad Cilik (Tuhan atas Mikrokosmos) dan Gustining Jagad Gedhe (Tuhan atas Makrokosmos)

 

Adapun pekabar-pekabar Injil mula-mula yang berasal dari pribumi antara lain Kiai Ibrahim Tunggul Wulung, Kiai Sadrach, dan Paulus Tosari.

Juni 18, 2014 Posted by | agama, sejarah | , , , | 1 Komentar

Kekristenan dan Sistem Ekonomi (Sosialisme atau Kapitalisme?)

A. Pendahuluan

Kekristenan dan Alkitab sebagai kitab sucinya telah dianut oleh hampir sepertiga penduduk dunia. Tentu ajarannya harus memberikan tuntunan yang jelas kepada pemeluknya. Tuntunan yang paling penting selain petunjuk spiritual adalah petunjuk social khususnya perilaku ekonomi yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari manusia. Saat ini berkembang dua system perekonomian di dunia ini. Kedua system tersebut adalah Sosialisme dan Kapitalisme. Meskipun tak dipungkiri lagi bahwa system kapitalisme jauh lebih dominan dari pada sosialisme.

Alkitab baik secara tersirat maupun tersurat mencoba memberikan petunjuk kepada pemeluknya bagaimana hidup berekonomi yang benar. Entah itu kapitalisme, sosialisme atau bahkan system baru yang belum dikenal.

B. Batasan Definisi

Kita akan memulai kajian ini dengan memberikan batasan mengenai hal-hal yang akan kita bahas.

a. Sistem Ekonomi Kapitalisme

Suatu system ekonomi yang memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Merupakan bagian dari gerakan individualisme
  2. Hak Kepemilikan Perseorangan
  3. Perekonomian pasar bebas
  4. Persaingan
  5. Kesempatan untuk meraih keuntungan
  6. Hukum penawaran dan permintaan

b. Sistem Ekonomi Sosialisme

Suatu system ekonomi yang memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Pemerintah sebagai pemimpin dan pengambil keputusan persoalan ekonomi
  2. Individu tidak boleh memilik apa yang dihasilkan. Hasilnya dipandang sebagai milik pemerintah untuk dibagikan secara merata
  3. Pengambilan alat-alat produksi dan hak milik pribadi
  4. Masyarakat tanpa kelas dengan konsep sama rata sama rasa
  5. Perjuangan kelas untuk mencapai tujuan

c. Kekristenan

Suatu kepercayaan yang bersandar pada ajaran Yesus Kristus. Dan, Alkitab sebagai sumber pegangan hidup pemeluk kepercayaan ini.

Walaupun banyak intepretasi yang berbeda terhadap Alkitab. Kita akan menggunakan intepretasi umum yang diterima oleh sebagian besar atau mayoritas umat Kristen (Katolik dan Protestan)

C. Kapitalisme dan Kekristenan

Max Weber dalam tulisannya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism menyebutkan bahwa Calvinisme (salah satu cabang Protestan) mengajarkan bahwa kerja merupakan panggilan Tuhan. Demikian pula pentingnya menghargai waktu, rasional dalam berpikir dan bertindak, berorientasi ke masa depan, hemat dalam kegiatan ekonomi sehari-hari merupakan etika yang sepenuhnya sesuai dengan tuntutan doktrin Kristiani. Weber melihat adanya pertautan khusus antara etika Kristiani dengan semangat atau etos kapitalisme. Dengan demikian, etika Protestan telah dijadikan dasar doktrin bagi perkembangan kapitalisme serta berkembangnya paham rasionalisme di Eropa. Arti penting konsep panggilan dan caranya diterapkan dalam keyakinan Protestan ialah bahwa panggilan berfungsi membuat urusan biasa dari kehidupan sehari-hari berada dalam pengaruh agama di segala aspek. Panggilan bagi seseorang adalah untuk melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dengan cara berperilaku yang bermoral dalam kehidupan sehari-harinya.

Ada beberapa ayat yang mendukung etos kinerja para pekerja dalam Alkitab. Beberapa ayat tersebut antara lain: 1 Tesalonika 4:11-12, Amsal 13:4, Amsal 21:20, Amsal 14:23, Efesus 4:28, Imamat 25:14-16, 2 Korintus 9:6, Pengkhotbah 9:10 dan Kolose 3:23. Sudah barang tentu ayat-ayat tersebut hanya memotivasi kaum pekerja untuk berkarya secara etis dan tidak secara langsung mendukung prinsip-prinsip kapitalisme. Jika memang dorongan ayat-ayat tersebut di atas memicu semangat kapitalisme, itu jelas pemahaman yang terlalu jauh.

Di sisi lain, pada masa Weber menulis karyanya ada perbedaan mencolok antara Protestan dengan Katolik. Menurut Weber, konsep “Bekerja sebagai panggilan Tuhan” baru timbul sewaktu terselenggaranya Reformasi Gereja. Konsep ini tidak ditemui ataupun tidak ada padanannya di dalam Katolik. Hal ini mendorong penitikberatan Protestan yang jauh berbeda dari ideal Katolik tentang pengasingan di biara-biara yang menolak pengejaran soal-soal duniawi yang sementara saja sifatnya. Katolik sendiri memiliki hierarki gereja yang tersentral yang identic dengan perekonomian komando.

Jika memang benar Protestan menjadi akar dari Kapitalisme maka telah terjadi pergesaran besar antara semangat Kapitalisme Protestan dengan Kapitalisme Liberal saat ini. Kapitalisme Protestan didasari dengan semangat khas oleh suatu kombinasi unik antara ketaatan kepada usaha memperoleh kekayaan dengan melakukan kegiatan ekonomi yang halal sehingga berusaha menghindari pemanfaatan penghasilan ini untuk kenikmatan pribadi semata-mata. Hal ini berakar dalam suatu kepercayaan atas penyelesaian secara efisien dari suatu tugas karya yang telah dipilih sendiri sebagai suatu kewajiban dan kebajikan. Sementara itu, Kapitalisme Liberal didasari semangat pengumpulan modal secara besar-besaran yang diperoleh secara bebas (tanpa pengaruh moral, hanya hukum saja) guna peningkatan keuntungan yang maksimal.

D. Sosialisme dan Kekristenan

Ayat Alkitab yang secara tersurat menjadi dasar sosialisme adalah Kisah Para Rasul 2:44 dan Kisah Para Rasul 4:32. Dua ayat tersebut menyatakan tidak ada milik pribadi, yang ada adalah kepunyaan bersama. Namun apakah yang terjadi pada masa itu sama dengan sosialisme saat ini? Sosialisme saat ini identik dengan komunisme di mana menganut perekonomian komando (central economics) yang mana semua putusan ekonomi ada di tangan pemerintah. Pemerataan ekonomi diatur oleh pemerintah. Sedangkan cara hidup jemaat Kristen mula-mula secara sukarela menyerahkan hak miliknya. Maklum, saat itu pemeluk Kristen tidak diakui dan bahkan dianiaya oleh pemerintah saat itu, Romawi. Sosialisme Komunisme saat ini diperoleh melalui jalan kekerasan, revolusi, perjuangan kelas, demonstrasi dan anarkis. Sosialisme Gereja diperoleh melalui kesadaran moral, belas kasih dan sukarela.

Ketika kaum sosialis komunis memegang kekuasaan, mereka meminpin secara dictator otoriter untuk mengatur seluruh sumber daya ekonomi negaranya. Selain itu, kekuasaan mutlak yang dipegang oleh penguasa sosialis komunis cenderung bertendensi untuk corrupt. Tidak ada kebebasan individu di dalamnya. Contohnya Negara pelaksana sosialisme komunisme adalah Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina. Dalam sosialisme komunis pemerataan ekonomi dilakukan secara top down, sedangkan dalam Sosialisme Gereja pemerataan ekonomi dilakukan secara bottom up.

Ada beberapa prinsip sosialisme komunis yang sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Yang paling menonjol adalah kepercayaan terhadap historical materialis, sebab soal spiritual merupakan efek samping dari keadaan perkembangan materi termasuk ekonomi. Sosialisme komunis tidak memusingkan hal yang bersifat pembangunan spiritual, termasuk pembangunan akhlak orang bertuhan. Ideology komunis tidak mempercayai Tuhan. Agama dilarang tegak karena dianggap sebagai candu bagi manusia dan masyarakat. Namun sekali lagi, seorang komunis tidak serta merta adalah atheis. Karena komunis berbicara tentang pemahaman system ekonomi bukan keyakinan pribadi. Dalam Sosialisme Gereja jelas aspek ketuhanan sangat diutamakan seperti tercermin dalam ayat Kolose 3:23.

Lalu bagaimana konsep hierarki dalam Katolik sama dengan perekonomian komando dalam sosialisme komunis? Sudah barang tentu kedua hal tersebut jauh berbeda. Hieraki Katolik diperuntukan untuk kepentingan pengajaran Gereja. Pengajaran Gereja ini juga termasuk perekonomian yang dijalankan. Namun jelas perekonomian yang dimaksud tidak menjurus pada soal fundamental system ekonomi.

E. Sistem Ekonomi Kristen

Lalu system ekonomi apa yang dianjurkan oleh Alkitab? Alkitab tentu tidak mengenal apa itu kapitalisme ataupun sosialisme. Namun Alkitab telah memberi tuntunan dalam hidup berekonomi. Prinsip-prinsip ekonomi Kristen antara lain:

  1. Tuhan menginginkan manusia makmur untuk memenuhi tujuanNya
  2. Kekristenan memberikan kebebasan untuk keperluan pengembangan ekonomi
  3. Ekonomi Kristen akan mengalir dari hati dan pikiran manusia terkait dengan kemakmuran, berkat dan amal
  4. Hak kepemilikan pribadi merupakan komponen fundamental dari kemakmuran, pengembangan ekonomi
  5. Kewirausahaan dan kemakmuran dihasilkan ketika manusia mampu memberi manfaat bagi karyawannya
  6. Produktivitas bertambah jika kita bekerja dalam kesatuan dengan yang lain yang memiliki kemampuan dan ketrampilan yang berbeda
  7. Pasar bebas menunjang manusia untuk melayani apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh sesama manusia secara sukarela
  8. Bekerja dan beristirahat dibutuhkan untuk mendapat keuntungan, kekayaan dan kenikmatan dalam hidup
  9. Kekayaan akan dialirkan dan terakumulasi melalui warisan
  10. Yang miskin dan yang membutuhkan dibantu melalui pemberian sukarela menurut Alkitab

Dari prinsip-prinsip tersebut maka sampai satu titik di mana Sistem Ekonomi Kristen tidak dapat disamakan dengan dua system ekonomi tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kekristenan tidak mengajarkan suatu system perekonomian yang detail seperti yang ada di kedua system ekonomi sebelumnya. Kedua, Kekristenan hanya mengajarkan nilai-nilai moral dalam berekonomi karena sekali lagi Kekristenan bukanlah suatu system ekonomi. Ketiga, Kekristenan merupakan suatu bentuk ekonomi yang voluntary-oriented bukan profit-oriented ataupun command-oriented. Keempat, Sistem Ekonomi Kristen bisa jadi berada di atas kedua system ekonomi sebelumnya karena prinsip-prinsip ekonomi Kristen bisa jadi ada dalam prinsip-prinsip system ekonomi kapitalis maupun sosialis.

Maret 10, 2014 Posted by | agama, ekonomi, politik | , , , , , , , , | 2 Komentar

APAKAH TUHAN MAHA SEGALANYA…???

A             : Apakah Tuhan maha melakukan segalanya?

B             : Tidak

A             : Bagaimana mungkin Tuhan tidak maha melakukan segalanya?

Bukankah itu berarti dia lemah? Dan yang lemah pastilah bukan Tuhan?

B             : Tuhan memang tidak bisa melakukan segalanya. Dia terbatasi

A             : Tuhan macam apa yang terbatasi??? Terbatasi oleh apa?

B             : Tuhan terbatasi oleh hakikatnya

A             : Memang apa hakikatnya Tuhan?

B             : Tuhan itu kebenaran dan kasih

A             : Apakah itu berarti Tuhan tidak bisa melakukan segala hal yang bertentangan dengan kedua hal

itu?

B             : Benar. Tuhan tidak bisa berbohong. Tuhan tidak bisa melukai. Dan lain-lain

A             : Lalu bagaimana bisa Tuhan memerintahkan memusnahkan bangsa Kanaan?

B             : Itu simbolisme bahwa segala dosa harus dibersihkan

A             : Apakah tidak ada pengampunan?

B             : Ini konteks Perjanjian Lama

A             : Apakah Tuhan Perjanjian Lama berbeda dengan Tuhan Perjanjian Baru?

B             : Tidak. Tuhan tetap sama.

A             : Lalu bagaimana Anda menjelaskan semua ini?

B             : Entahlah. It’s God’s Will

A             : Bagaimana Anda menilai perbuatan Tuhan benar atau salah?

B             : Tentu tidak bisa. Semua yang dilakukan Tuhan pasti benar

A             : Adakah menurut Anda perbuatan Tuhan yang salah?

B             : Tidak ada

A             : Tuhan pernah menyesal menciptakan manusia. Apakah itu berarti Tuhan keliru menciptakan

Manusia?

B             : Penyesalan itu hanya bentuk kesedihan Tuhan yang teramat sangat. Bukan bentuk penyesalan

menciptakan manusia

A             : Lalu bagaimana tindakan Tuhan yang mengeraskan hati Firaun untuk menahan Bangsa Israel

tetap di Mesir?

B             : Tuhan punya kalkulasi terhadap perbuatanNya

A             : Benar. Itu sebabnya Tuhan tidak terbatas. Tuhan bisa melakukan segalanya

B             : Meski perbuatan itu salah?

A             : Ya. Karena yang memandang benar atau salah adalah mata manusia. Di dalam Tuhan tidak ada

kesalahan meskipun apa saja yang diperbuatnya sebab Tuhan ada kebenaran.

B             : Apakah itu berarti Tuhan bisa mengubah yang salah menjadi benar?

A             : Tuhan tidak sekali-kali mengubah yang salah menjadi benar. Hanya saja dari kesalahan itu bisa

menimbulkan kebenaran. Bagaimanakah ada kebenaran tanpa ada kesalahan?!

B             : Saya mulai paham. Itu sebabnya Tuhan membiarkan munculnya dosa.

A             : Ya. Walaupun Tuhan tidak bertanggung jawab atas munculnya dosa tapi Tuhan tahu dosa akan

muncul

B             : Mungkin awalnya kita bisa saja meminta Tuhan untuk mencegah munculnya dosa. Itu bisa

dilakukanNya tapi tidak dilakukanNya

A             : Tuhan punya grand design terhadap ciptaanNya. Dia ingin secara aktif berinteraksi dengan

ciptaanNya

B             : Dengan adanya dosa maka Tuhan punya alasan untuk mengasihi ciptaanNya.

A             : Sebab Tuhan adalah kasih maka Tuhan ingin menunjukkan kasihNya yang besar itu.

B             : Mengapa Tuhan tidak begitu saja mengampuni dosa manusia?

A             : Salah satu hakikat Tuhan adalah adil dan tetap. Tuhan tidak pernah berubah. Demikian juga

firmanNya. Tuhan berfirman upah dosa ialah maut maka setiap dosa harus dihukum. Itulah

keadilan Tuhan

B             : Lalu mengapa harus Yesus, AnakNya yang dikorbankan? Mengapa bukan Bapa sendiri?

A             : Terlalu mudah memberikan diriNya sendiri bagi orang lain. Tapi sangat sulit memberikan

sesuatu yang kita punyai yang paling kita kasihi kepada orang lain. Karena Tuhan itu kasih maka

Tuhan lebih mengasihi AnakNya daripada diriNya sendiri. Namun, AnakNya itulah yang

dikorbankan. Satu-satunya kepunyaan Allah yang paling dikasihiNya yaitu AnakNya sendiri.

B             : Itulah kasih termegah

November 29, 2013 Posted by | agama | 3 Komentar

KEBENARAN YANG HILANG (Farag Fouda)

Sesungguhnya keadilan tidak akan terwujud dengan kebajikan penguasa semata-mata dan tidak juga akan bersemi dengan kebajikan rakyat dan penerapan syariat. Namun, keadilan dapat terwujud dengan apa yang kita sebut sebagai “sistem ketatanegaraan”. Yang dimaksud adalah ketentuan-ketentuan yang memuat tata cara mengontrol penguasa jika ia bersalah, dan menghambatnya untuk melampaui kewenangannya. Dengan itu, kita dapat menurunkannya jika ia melenceng dari kepentingan publik atau menyalahi kewenangannya. Ketentuan-ketentuan itu dapat datang dari unsur internal yang tumbuh dari kesadaran dan sensitivitas seorang pemimpin. Namun, sangat jarang terjadi dan karena itu tidak dapat dijadikan patokan dan dasar. Yang lebih tepat adalah bilamana ketentuan-ketentuan itu bersifat meyakinkan dan terorganisasi.

Penerapan syariat Islam itu sendiri sesungguhnya bukanlah esensi dari Islam. Syariat telah diterapkan secara penuh dan terjadilah apa yang terjadi. Karena itu yang lebih penting dari penerapan syariat itu sendiri adalah menetapkan ketentuan-ketentuan ketatanegaraan yang adil dan berkesesuaian dengan semangat Islam. Kita telah menyaksikan betapa penuhnya syariat diterapkan dan betapa salehnya seorang pemimpin komunitas Islam. Bahkan, rakyatnya pun tidak kalah berimannya. Namun, yang terjadi tetap terjadi karena memang ada sesuatau yang hilang, dan mungkin perkaara itu masih tetap lenyap sampai saat ini. Karena itu, sebelum memulai sesuatu, hendaklah kita memulainya dengan yang paling pokok, bukan dari cabang. Dimulai dari esensi terdalamnya, bukan kulit luarnya. Mendahulukan keadilan di atas sanksi-sanksi, menjamin stabilitas di atas qisas dan menjamin rasa aman di atas teror serta menjamin perut kenyang daripada memotong tangan.

Andai kita beranjak dari masa Khalifah Usman ke masa sekarang, kita tidak akan menemukan banyak perubahan dan perbaikan, baik itu dalam aspek penyelesaian problem masyarakat atau dalam soal kontrol terhadap para penguasa apabila mereka bersalah dari sudut pandang Islam. Tidak perlulah kita mencari-cari hubungan antara penerapan syariat dengan potensi penyelesaian problem masyarakat. Tanyakan pada diri kita sendiri hal-hal berikut: Bagaimana cara agar upah meningkat sementara harga menurun bila syariat diterapkan? Bagaimana cara mengatasi soal perumahan yang sangat kompleks dengan penerapan syariat? Bagaimana menanggulangi utang luar negeri secara syariat? Bagaimana badan usaha milik negara akan menjadi badan usaha yang produktif, seimbang dengan tingkat investasinya, dalam kerangka penerapan syariat? Bagaimana dengan tingkat upah, harga dan pemukiman warga? Apakah ada kaitan antara fenomena atau problem ini dengan penerapan syariat? Yang tampaknya lebih pasti, tidak ada hubungan atau keterkaitan sama sekali. Namun hubungan itu akan terjadi dan dapat dievaluasi korelasinya bilamana ada agenda politik yang dapat mensistematisasi kosakata masyarakat, termasuk syariat, dalam suatu sistem yang tidak bertentangan dengan Islam dan tidak juga berbenturan dengan perkembangan dunia modern.

Menyangkut demokrasi, kaum revivalis Islam juga merasa berhak mendefinisikan demokrasi berdasarkan isi kepala dan teori mereka. Padahal mereka sesungguhnya tidak ingin terikat dengan konstitusi yang sebetulnya juga telah menyatakan prinsip-prinsip syariat Islam sebagai sumber utama perundang-undangan Mesir. Namun, anehnya merekapun tidak ingin tunduk kepada aspirasi masyarakat yang juga berhak melakukan revisi atas konstitusi. Lalu apa hak mereka untuk mengemukakan alasan tentang hak berbeda pendapat di alam demokrasi yang justru menjadi bumerang untuk mereka sendiri? Mereka melontarkan gagasan yang justru kontradiktif dengan apa yang mereka pikirkan. Mereka berlindung di balik konstitusi yang mereka sendiri tidak mengakuinya. Jadi dalam hal ini, konstitusi sebetulnya bukanlah tempat mereka berlindung. Karena itu cara mereka satu-satunya untuk tampil adalah bertarung sebagaimana orang lain bertarung. Mereka harus tampil dengan agenda-agenda politik yang terukur dan menciptakan partai mereka sendiri. Saat mereka meraih suara terbanyak dalam sebuah pemilu yang bebas, mereka sesungguhnya telah memberikan bukti dan membungkam para kaum sekuleris dengan tindakan nyata. Andai mereka sampai ke tampuk kekuasaan dengan kehendak mayoritas rakyat, mereka pun berhak menjalankan aspirasi mereka. Ketika mereka berada di parlemen, mereka mendapatkan legalitas dengan kehadiran yang legal pula. Dengan begitu, kita berharap mereka terbiasa membuat agenda politik yang terukur. Dialog dengan mereka pun akan terjalin dalam soal-soal politik yang empiris, dialog tentang dunia, bukan agama. Tujuan mereka akan lebih jelas yaitu mengincar kunci kekuasaan, bukan istana di surga.

Tidak semua yang mungkin pada masa al-Khulafa al-Rasyidun, mungkin pula pada masa kini. Rasulullah pun tahu akan hal itu. Karena itu, ia tidak segan-segan mengadopsi sejumlah adat-istiadat masyarakatnya seperti pola berpakaian dan pengobatan. Ini adalah lapangan yang kita tidak dianjurkan untuk mencontohnya apalagi menganggapnya sebagai sunnah yang wajib dituruti. Rasulullah tidak datang dengan pakaian baru, tetapi tetap memakai baju era jahiliyyah, bahkan pakaian non-Arab ketika ia diberi hadiah. Karena itu, pola berpakaian Nabi bukanlah sunnah yang perlu dituruti dan diteladani. Begitu juga dengan legalitas kekerasan fisik. Ketika itu, Rasulullah tidak menolak kekerasan fisik yang dilakukan Ali terhadap seorang budak untuk mendapat pengakuan yang ia kehendaki. Karena itu, tafsiran ‘fotokopi’ menyatakan bahwa melakukan kekerasan fisik untuk mendapat pengakuan tersangka dalam suatu perkara adalah bagian dari Sunnah Nabi. Dengan tafsir seperti ini, isu penyiksaan fisik demi memperoleh pengakuan dapat dianggap legal, sesuai syariat, bahkan baik karena mengikuti paham salaf. Akan tetapi, sudut pandang lain yang lebih luwes dan sesuai dengan semangat Islam justru menolak penyiksaan fisik. Pandangan ini menyatakan bahwa sekalipun itu dapat diterima pada masa Rasulullah, hal itu tidak perlu lagi berlaku pada masa selanjutnya. Di sini perlu ditegaskan bahwa Islam tidak bertentangan dengan semangat modern, dalam tiap-tiap apa pun yang lebih manusiawi, lebih toleran dan lebih adil.

Kisah eksekusi hukuman mati terhadap Abdurrahman bin Muljam yang membunuh Ali bin Abi Thalib sama sekali tidak menunjukkan semangat Islam dan keluhuran ajarannya. Kendati pun kisahnya hanya sebatas pembakaran mayat setelah Ibnu Muljam di-qisas. Rasulullah pun pernah melarang melakukan cara-cara balas dendam yang setimpal (al-matsalah), walau terhadap anjing gila. Dalam riwayat Ibnu Katsir disebutkan, sebelum wafatnya, Ali pun melarang pembalasan yang setimpal terhadap pembunuhnya. Namun, bagi kita kisah ini merefleksikan semangat dan mentalitas zaman yang dipenuhi iklim kekerasan dan membatunya nurani. Memang pada tiap-tiap fakta, betapa mudah kita menemukan para pendukung tafsir ‘fotokopi’ yang dapat membenarkan tindakan Abdullah bin Ja’far dalam mengeksekusi Ibnu Muljam. Bukankah lebih baik bagi orang-orang seperti ini, demi solidaritas terhadap kita dan Islam, agar lebih berpegang teguh kepada al-Quran dan Sunnah dalam soal ibadah, dan dalam waktu bersamaan menyisakan sesikit ruang pikiran untuk lebih mengenal dunia modern dan berinteraksi dengannya? Tidakkah lebih baik bagi kita untuk menyerap nilai-nilainya yang berkesesuaian dengan esensi agam dan tidak bertentangan dengan akidah dan iman? Jadi, kita menerima apa yang mesti diterima, menolak apa yang mesti ditolak, dengan perisai hati seorang beriman dan pemikiran yang terbuka. Kita tidak menolak hak asasi manusia semata-mata karena ia datang dari Barat; tidak menolak demokrasi dengan menyebutnya bidah; tidak menolak modernitas secara keseluruhan; dan tidak pula menerima mentah-mentah keseluruhan era al-Khulafa’ al-Rasyidun. Kita tetap  menggunakan akal pikiran dalam memahamiteks agama. Semua itu sebetulnya tidak berhubungan langsung dengan pemikiran dan akidah, tetapi lebih banyak berhubungan dengan faktor-faktor pendorong kemajuan. Itu memang bukan salah satu rukun dari rukun Islam, tetapi ia tetaplah bagian dari Islam.

Ketentuan-ketentuan agama memang tetap (al-tsabit), tetapi kondisi kehidupan terus berubah (al-mutaghayyir). Dan, di antara sesuatu yang tetap dan berubah itu, harus tetap ada bentuk-bentuk penyimpangan (al-mukhalafat). Yang dimaksud penyimpangan di sini adalah perubahan pada yang tetap dan ketetapan pada yang berubah. Karena membuat tetap kenyataan hidup yang selalu berubah ini adalah sesuatu yang mustahil, maka yang selalu terjadi adalah perubahan pada apa-apa yang dianggap tetap dalam agama. Ini selalu terjadi, sejak permulaan masa al-Khulafa’ al-Rasyidun, sampai berakhirnya. Upaya mengubah sesuatu yang dianggap tetap itulah yang kita sebut sebagai ijtihad. Ijtihad memang tidak mutlak, tetap ia harus tetap terjadi dan dimungkinkan. Hanya saja, dalam beberapa kasus, kompleksitas kehidupan terkadang memang memaksakan adanya bentuk-bentuk penyimpangan yang sangat tajam. Di situ tidak ada lagi kesinambungan bagi ijtihad untuk menghubungkan antara relevansi dan tujuan yang hendak dicapai. Penyimpangan-penyimpangan itu dapat sangat jelas dan terang sehingga tidak mungkin dibenarkan dengan ijtihad, karena memang tidak ada relevansinya. Ijtihad hanya dapat menyatakan bahwa tidak terjadinya suatu penyimpangan adalah mustahil atau paling kurang tidak mungkin. Pada masa kenabian pun, tidak ada kesucian mutlak, yang ada hanyalah tiadanya penyimpangan yang mutlak. Dan, setiap kali terjadi perubahan atau kemajuan zaman, akan bertambah banyak pula terjadinya bentuk-bentuk perubahan. Penyimpangan-penyimpangan pun akan bertambah. Jika lapangan ijtihad begitu luas, sekalipun penyimpangan tetap terjadi – bahkan sebelum seperempat abad masa mangkatnya nabi, era orang-orang yang pernah hidup semasa dengannya – bagaimana dengan kita yang hidup 14 abad setelah mangkatnya Rasulullah? Bukankah masuk akal jika tingkat penyimpangan-penyimpangan yang tidak bisa dielakkan (al-mukhalafat al-itirariyyah) itu telah meniscayakan kita untuk melapangkan medan ijtihad yang krusial (al-ijtihad al-aruruyyah)? Karena itu, kita mesti berlapang dada menerima tingkat terendah sekalipun dari penerapan agama yang terjadi pada zaman kita. Ini tentu jauh dari peringkat al-salaf al-salih yang hidup pada zaman yang lebih terdahulu, kurang kompleks, lebih tertutup dan lebih homogen.

Juni 15, 2013 Posted by | agama, hukum, politik, sejarah | , , , , , | 1 Komentar

RINGKASAN BUKU “THE WORLD IS CURVED” KARYA DAVID M. SMICK

  1. AKHIR PEREKONOMIAN AMERIKA SERIKAT

Kemajuan dunia berhadapan dengan krisis likuiditas besar yaitu Krisis Kredit Besar 2007-2008. Dengan cepat, bank-bank dan institusi finansial dunia lainnya berhenti mengeluarkan pinjaman. Di seluruh dunia, berbagai kesepakatan finansial pun berhenti mendadak. Di AS, banyak pembeli rumah yang potensial tidak bisa menutup pembelian mereka. Sistem finansial global mulai terperosok.

Pasar telah menjadi panik karena kerugian di dalam apa yang dikenal sebagai pasar subprime, pasar kredit perumahan dan instrumen keuangan yang berkaitan dengan kredit perumahan yang relatif kecil yang terkait dengan peminjam yang tidak punya sejarah kredit atau sejarah kredit yang buruk. Tetapi, bagaimana bisa gagal bayar sejumlah kredit rumah menyebabkan hancurnya pasar saham global dan meruntuhkan pasar kredit? Lagi pula, masalah pinjaman paling besar bernilai $200 miliar di tengah pasar global yang memiliki nilai ratusan triliun dolar.

Hanya dalam beberapa hari, krisis ini telah menyebar ke pasar surat berharga yang sebelumnya dianggap sebagai basis investasi teraman bagi reksa dana pasar uang. Itu artinya Amerika tengah harus menghadapi masalah. Tiba-tiba, satu-satunya pasar yang dianggap investasi paling aman, paling likuid (tidak berhubungan dengan pemerintah) di dunia menjadi tersangka. Fondasi dasar dari sistem finansial berhadapan dengan krisis kepercayaan. Suplai kehidupan dari sistem global ini tiba-tiba berhadapan dengan risiko adanya investor menuangkan dana mereka ke dalam satu-satunya investasi jangka pendek yang paling terpercaya – surat utang berjangka tiga bulan yang dikeluarkan Departemen Keuangan AS. Mengapa hal itu berbahaya? Ini berarti likuiditas pasar finansial mulai mengering. Ketika kepanikan yang sama terjadi selama Depresi Besar, para investor dan penabung menyimpan uang mereka di bawah kasur. Berbagai perusahaan besar memarkir cadangan uang tunai mereka di pasar surat-surat berharga.

Pasar kredit dunia pun macet karena tidak ada orang yang yakin dengan liabilitas pihak lain. Hal tersebut adalah keadaan yang berbahaya karena kalau pasar kredit privat berhenti berfungsi, seluruh ekonomi berada dalam posisi berbahaya – orang kehilangan pekerjaan, pensiun mereka dihapus, nilai bersih dari tabungan rata-rata yang dimiliki keluarga pun dengan cepat ambruk ketika harga rumah mereka merosot di bawah harga cicilan yang masih harus mereka bayar. Suku bunga pinjaman konsumsi pun melambung – kredit mobil, kartu kredit, dan semuanya – berarti cepat atau lambat, ekonomi akan menerima hantaman.

Pada dasarnya, apa yang sebenarnya terjadi adalah: institusi-institusi keuangan di AS sebelumnya menempatkan sebagian besar pinjaman subprime-nya yang tidak aman ke dalam fasilitas holding terpisah, membagi jumlah totalnya ke dalam beberapa porsi yang lebih kecil, dan menjual bagian-bagian ini ke berbagai institusi finansial di Eropa dan Asia. Tidak lama kemudian, limbah beracun ini memercik seluruh sistem keuangan negara maju, tetapi tidak ada yang tahu dari mana asalnya.

Integrasi pasar-pasar finansial dunia selama dua puluh lima tahun terakhir telah menghasilkan era emas penciptaan kekayaan dan pengurangan kemiskinan yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Dengan masuknya China dan India ke sistem kapitalis global, dunia maju selama masa luar biasa ini mencapai hal yang hampir tampak seperti mujizat. Dalam waktu kurang dari dua dekade, pasar bebas global mengalami pelipatgandaan tak terduga dalam hal tenaga kerjanya – 2,7 miliar ke 6 miliar, tanpa adanya revolusi, tanpa kericuhan serius di jalanan, bahkan tanpa ancaman penutupan masal dari sistem perdagangan yang ada.

Ekonomi global spektakuler yang ada sekarang ini tidak stabil dan mengkhawatirkan. Ketika pekerjaan dan investasi berpindah-pindah di seluruh dunia, banyak orang kehilangan pendapatan dan pensiun. Dan ketika pergesaran besar ini terjadi, manfaat ekonomi dari sistem ini sering kali tidak disebarkan dengan adil. Seperti yang dikatakan Nina Easton dari Fortune. “Tidak ada banyak rasa aman di tengah ekonomi global yang bergerak cepat di mana para pekerja berusaha sekuat tenaga mengejar kesempatan (tanpa mengindahkan aturan resmi), terus memantapkan karir mereka (tidak bergantung pada senioritas), dan merancang sendiri tabungan mereka (tanpa bergantung pada perusahaan pensiun).”

Yang terpenting, ekonomi global baru ini amat sangat berbeda dari sistem lawannya di mana korporasi dan para pengatur elitenya mengatur sistem kendali global demi menjaga stabilitas relatif. Sekarang yang terjadi adalah sebaliknya. Yang lebih sering terjadi adalah berbagai korporasi besar terus terancam hancur oleh kelas individu yang sangat cerdik berusaha dan mengambil risiko, di mana mereka sendiri juga terus berhadapan dengan kemungkinan adanya kegagalan. Seperti IBM yang pernah terancam oleh Microsoft, sekarang ini Microsoft terancam oleh perusahaan-perusahaan baru yang melek internet, seperti Google atau sistem open-source seperti Linux.

Situasi ini mungkin menjadi lebih ruwet lagi dikarenakan realitas bahwa kita sedang memasuki suatu abad interaktif yang baru di mana kolaborasi massal melalui internet sedang mengubah cara bisnis diciptakan dan menambah nilai. Ini adalah suatu proses reformasi bisnis internasional bergaya populis di mana dinamika bottom-up mungkin secara perlahan mengambil alih ekonomi global.

Pada akhirnya. Masa depan ekonomi dunia yang terglobalisasi bergantung pada pertanyaan mendasar berikut: Apa definisi likuiditas? Dan mengapa likuiditas (dan saudaranya, ketersediaan kredit) bisa tampak melimpah di satu waktu dan semenit kemudian tampak menguap habis? Sejauh mana likuiditas mencerminkan nilai pertumbuhan sejati di dalam ekonomi global yang sedang berkembang? Kalau hal ini ditelanjangi sampai ke esensinya, likuiditas mungkin saja tidaklah lebih daripada kepercayaan. Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, mengutarakan pendapat ini: “Likuiditas kuat di pasar-pasar modal AS tampak ketika hasil-hasil ekonomi dipercaya sebagai sesuatu yang menguntungkan. Ketika hasil-hasil [yang sangan negatif] dipandang amat tidak mungkin terjadi atau, paling tidak, menjadi subjek dari pengukuran yang cukup tepat, kondisi-kondisi ini menjadi ladang subur tumbuh berkembangnya likuiditas.” Alan Greenspan sebagai ketua Federal Reserve juga berpendapat kalau likuiditas hanyalah kata lain bagi kepercayaa (confidence)

Esensinya, keberlangsungan hidup dari sistem finansial dunia bergantung pada permainan kepercayaan global. Ukuran pasar-pasar finansial, bergantung pemerintahnya, telah menjadi satu dan begitu besar sehingga tidak ada cara lain untuk menjaga stabilitas selain dari psikologi kepercayaan. Pemerintah-pemerintah itu sendiri tidak bisa membuat peraturan untuk mengembalikan keteraturan. Mereka hanya bisa memproyeksikan kepada pasar-pasar itu suatu rasa kalau mereka tahu apa yang mereka sedang lakukan. Pemerintah-pemerintah mulai mendefinisi ulang konsep cadangan bank sentral. Semua itu bukan cadangan lagi – semua itu modal investasi pemerintah yang dipersiapkan untuk belanja besar-besaran secara global.   

 

  1. CATATAN TENTANG PEREKONOMIAN CHINA

Bagi perekonomian global, China melambangkan paradoks yang luar biasa. Di satu sisi, China tidak punya pilihan selain berusaha berkembang dengan laju pertumbuhan yang belum pernah ada sebelumnya. Pertumbuhan yang lebih lambat berarti tidak ada cukup pekerjaan dan karenanya berpotensi lebih besar – dan tentu saja lebih berbahaya bagi ketegangan politik dan sosial. Di sisi lain, China ketika berkembang cepat juga berhadapan dengan risiko menjadi momok gelembung ekonomi dan finansial bagi dunia. Di China sendiri, para pembuat keputusan birokratik terus menimbun berbagai komoditas dengan tujuan mendorong mesin ekonomi yang terus tumbuh itu. Pasar-pasar sahan yang meningkat mulai menunjukkan ketidakstabilan yang berbahaya. Di China, inflasi dengan cepat meningkat, yang ditemani oleh berbagai dugaan peningkatan yang berkaitan dengan inflasi di seluruh negara maju.

Ketika gelembung China meletus, China bisa dengan cepat menjadi ancaman penurunan harga bagi dunia. Dalam skenario perlambatan yang terjadi setelahnya, China bisa jadi tidak punya pilihan lain selain melempar semua timbunan komoditas dan barang-barang jadi ke pasar-pasar dunia. Hal ini berpotensi menyebabkan anjloknya harga global, menyajikan berbagai komplikasi besar bagi para pembuat keputusan di negara-negara maju. Menurut skenario semacam ini, harga-harga komoditas ketika ada di titik ketidakseimbangan akan terjun bebas, karena sebagian tekanan peningkatan harga sebenarnya adalah hasil dari pertaruhan para spekulator yang berusaha mendapatkan harga-harga yang lebih tinggi. Ketika tren peningkatan ini mulai berbalik, para spekulator ini akan dengan cepat menarik diri dan menyelamatkan apa yang mereka miliki, menyebabkan harga terjun bebas.

Elemen paradoks lain tentang China: Peran arus modal. Di satu sisi, China butuh teknologi negara-negara maju dalam  bentuk suntikan investasi modal langsung terspesialisasi dari luar negeri. Di sisi lain, China adalah eksportir modal utama. China menggunakan cadangan-cadangan bank sentralnya (yang sekarang ini berjumlah sangat besar karena Beijing sengaja menjaga mata uangnya undervalued) demi memberi keuntungan strategis bagi investasi di luar negeri. Sederhananya adalah China melambangkan tindakan penyeimbangan rumit bagi para pembuat kebijakan negara-negara maju, skenario yang melibatkan semacam suatu kumpulan variabel yang rumit yang membuat perencanaan strategis dalam manajemen krisis menjadi teramat sulit.

Akankah prediksi bahwa China akan memimpin dunia suatu hari kelak lebih punya akurasi daripada berbagai prediksi terdahulu tentang Jepang, Prancis, Uni Soviet, dan Argentina? Mungkin. Tetapi, jangan kesampingkan India, si kuda hitam. Namun, India bukanlah eksportir modal utama. Dari sekitar satu miliar penduduknya, kurang dari lima juta bekerja dalam bidang manufaktur. Kemungkinannya, ancaman India bagi dunia tidak sebesar China

Faktanya, China telah mencapai laju pertumbuhan perekonomian sebesar 10% dalam waktu kurang dari satu dekade tanpa adanya preseden apa pun dari dunia. Yang tidak diketahui adalah India mungkin melakukan hal yang sama tidak lama lagi. Dalam waktu beberapa tahun terakhir, India telah mencapai laju pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 8% atau lebih.

Pastinya, perekonomian India, dengan penduduk kelas menengahnya yang berjumlah besar, berpendidikan bagus dan mampu berbicara bahasa Inggris, sedang dalam fase tinggal landas. Kalau China itu pabriknya dunia, India itu back officenya dunia. Secara umum, back office menawarkan lebih banyak kestabilan jangka panjang daripada pabrik. Ketika model yang ada di China bergantung pada berbagai variabel eksternal yang tidak terduga dan sama sekali tidak bisa dikendalikan – ekspor dan arus masuk investasi langsung teknologi asing – India menikmati perekonomian yang secara umum didorong oleh permintaan domestik, walaupun memiliki lebih banyak arus modal masuk yang bersifat jangka pendek. Terlebih lagi, India beroperasi di bawah tingkat keamanan yang relatif lebih baik, aturan hukum ala Anglo-Saxon, walaupun tidak sempurna bagi investor dari luar, tetap menjadi perbandingan mencolok bagi situasi legal China yang sumir dan bahkan tidak berwujud.

Memang benar, perekonomian India menurut sejarahnya sering dihalangi oleh inflasi, oleh kepemimpinan politik yang relatif tidak konsisten, dan mungkin yang terbesar adalah, oleh infrastruktur yang lemah, dan karena itulah proses pembangunan infrastruktur yang besar sekali dan berlangsung selama satu dekade telah dimulai. Selama lima belas tahun terakhir, inflasi secara impresif berkurang dari 14% ke 5,5%, tetapi masih harus ditekan lagi. tugas semacam itu tidak akan mudah dikarenakan fenomena inflasi upah yang mengglobal. Terlebih lagi, India telah menjadi lebih rentan dikarenakan bertambahnya defisit transaksi berjalannya.

Poin yang lebih besar adalah China, yang membuka perekonomiannya di tahun 1979, memiliki keunggulan dua belas tahun lebih awal dibanding India, yang mulai melakukan hal tersebut di tahun 1991. Tetapi, India mungkin berada di posisi yang lebih baik daripada China dulu ketika berada di tahap pembangunan ini. Investasi asing langsung India, sekarang ini bernilai sekitar $50 miliar, kira-kira sama dengan China lima belas tahun sebelum reformasinya. China tumbuh lebih cepat, tetapi India lebih stabil, dengan sektor finansial yang berpotensi tidak terlalu terbebani oleh kredit macet

Jadi isunya bukanlah apa yang telah India lakukan, tetapi apa yang negara ini lakukan dalam beberapa dekade selanjutnya kalau kebutuhan infrastruktur, hukum pembatasan tenaga kerja, dan halangan lain yang mungkin muncul diperbaiki dengan tepat, seperti yang dijanjikan oleh pemerintahnya. Perhatikan juga apakah manufaktur mencapai titik jenuh global, sehingga China berupaya berkompetisi secara global di arena jasa, bila begitu India akan mendapat ancaman.

Jadi, pada dasarnya, China adalah suatu perekonomian yang didorong oleh momentum. Momentumnya berakar dari kebutuhannya, paling tidak untuk sekarang ini, terhadap arus masuk luar biasa dalam hal pengetahuan teknis dan arus ekspor yang besar. Apapun yang mengusik momentum ini – baik perlambatan dalam hal investasi, penurunan ekspor, perang dagang yang dicetus oleh pemanasan global, atau blunder teknis yang dilakukan oleh kepemimpinan China ketika berusaha merekayasa pendaratan yang halus – berpotensi menciptakan faktor pengali negatif terhadap seluruh sistem China, dan pastinya juga terhadap seluruh dunia. Hal  lain yang harus diperhatikan: memburuknya inflasi dan tuntutan Eropa atau Amerika terhadap imbal balik investasi yang China, karena berbagai alasan politik, tidak bisa atau tidak akan tawarkan

Implikasi globalnya serius. Bersama-sama, G2 yang baru, AS dan China, selama lima tahun terakhir menghasilkan lebih dari 60% pertumbuhan akumulatif total PDB dunia. Faktanya: Amerika telah berhubungan harmonis bahkan intim dengan China. Dan secara luas, dengan seluruh dunia. Seluruh sistem global semakin terkait dengan sistem politik, perekonomian, dan finansial China yang remang-remang dengan transparansi terbatas. Dalam hal China, kita hampir tidak bisa tahu apa yang akan segera terjadi, dan kita tidak akan bisa membalikkan badan. Memang, kalau kita mau mempertahankan perekonomian global baru yang ada sekarang ini, kita perlu membantu para pejabat China belajar bagaimana menanggapi dan bekerja bersama sistem internasional secara keseluruhan. Kita sangat membutuhkan upaya terkoordinasi untuk memandu makhluk buas yang berbahaya namun luar biasanya, makhluk yang punya kemampuan mengangkat dunia ke era kemakmuran yang baru – atau menenggelamkan kita ke jurang dalam penuh kekacauan.  

 

  1. BANK-BANK SENTRAL YANG TAK BERDAYA

Karena melemahnya perekonomian dan tidak stabilnya kondisi pasar finansial, para pembuat kebijakan di The Fed bisa memilih Opsi I. Mereka bisa memotong suku bunga jangka pendek secara dramatis, mungkin sebesar 1%, dalam sekali pukul, dan diikuti oleh pemotongan-pemotongan setelahnya. Tujuan Opsi I: memosisikan ulang kebijakan moneter semakin di luar kurva yang ada. Opsi II melibatkan pemotongan suku bunga yang lebih terkendali. Pendekatan inilah yang paling mungkin dihindari supaya tidak kembali ke skenario perekonomian tahun 1970-an. Tujuan dari Opsi II adalah kesuksesan berlipat tiga dalam hal menjaga inflasi, membatasi melemahnya dolar dan menstimulasi perekonomian. Namun, risikonya adalah kemungkinan semakin runtuhnya perekonomian sebagai hasil dari The Fed yang bertindak terlalu lamban dan terlalu enggan. Jadi, opsi mana yang dipilih Federal Reserve dalam berbagai diskusi internal mereka? Tidak dua-duanya. Alasannya adalah berbagai diskusi tersebut tidak pernah terjadi karena pasar finansial global dengan cepat main hakim sendiri. Dalam proses ini, pasar finansial global membuat keputusan untuk Federal Reserve. Pasar memilih Opsi I.

Sejak awal globalisasi, tugas ketua Federal Reserve hampir seperti bankir bank sentral dunia. Ini karena walaupun euro telah memiliki tingkat penggunaan dan visibilitas yang lebih besar dalam beberapa tahun terakhir, Federal Reserve sekarang ini masih berkuasa di dunia finansial yang sebagian besar terdolarisasi. Dengan kata lain, sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang masih mengaitkan mata uang mereka dalam satu bentuk atau lainnya dengan dolar AS. Itu artinya sang ketua harus memerhatikan bukan hanya berbagai kejadian yang terjadi di dalam perekonomian AS; dia juga harus memahami berbagai kompleksitas yang dimiliki berbagai perekonomian lain di dunia. Sampai pada satu titik, Federal Reserve selama beberapa tahun terakhir telah dipaksa untuk “terbang buta” tanpa adanya “radar” statistik normal untuk melaksanakan kebijakan moneter. Di masa lalu, sebagian indikator pasar berfungsi sebagai tanda peringatan penting bagi perbankan sentral.

Para bankir bank sentral dunia tidak bisa menyetujui satu saja definisi inflasi. Contohnya, para bankir bank sentral Eropa dikendalikan oleh rasa takut terhadap apa yang disebut sebagai headline inflation. Istilah ini adalah suatu pengukuran terhadap tingkat semua harga termasuk harga makanan dan energi. Sebaliknya, para bankir bank sentral AS percaya bahwa headline inflation membawa terlalu banyak distorsi jangka pendek dan lebih suka menggunakan sesuatu yang disebut sebagai core inflation, pengukuran tingkat harga tanpa mengikutsertakan makanan dan energi di dalamnya.

Pengukuran mana yang lebih akurat? Orang-orang Eropa berpendapat bahwa untuk orang kebanyakan, mengisi tangki bensin mobil dan membayar tagihan makanan bukanlah aktivitas perekonomian yang remeh-temeh, dan karenanya harus diikutsertakan di dalam pengukuran inflasi. Pendapat tersebut menyatakan bahwa kenaikan harga makanan dan energi pada akhirnya akan memberikan efek penularan terhadap tingkat harga pada umumnya, terutama pada tuntutan upah yang disodorkan oleh serikat pekerja. Para pejabat AS membalas kalau faktor-faktor cuaca dan geopolitik bisa secara temporer mengusik arus harga makanan dan energi, karenanya mengubah gambaran harga secara luas. Terlebih lagi, rasa takut terhadap efek penularan terlalu dilebih-lebihkan, terutama di dalam perekonomian AS yang didominasi sektor jasa, di mana keanggotaan serikat pekerja  dalam beberapa dekade terakhir terus turun secara signifikan.

Dalam tingkah laku bisnis mereka, para bankir bank sentral menurut sejarahnya terus mengawasi satu perangkat lain, satu tanda peringatan yang disebut sebagai emerging market risk spreads (perbedaan antara suku bunga obligasi pemerintah yang menurut sejarahnya tidak sempurna di negara berkembang dan suku bunga ultra-aman milik Departemen Keuangan AS). Dalam era sekarang yang dipenuhi likuiditas berlebih, investor global, dalam upaya mereka mendiversifikasi portofolio mereka, telah menempatkan sejumlah besar modal ke dalam berbagai investasi obligasi negara berkembang yang memberikan pengembalian tinggi. Hasilnya, suku bunga dari utang yang tidak terlalu aman ini selama beberapa tahun terakhir telah beberapa kali melambangkan gambaran yang berprospek luar biasa bagus yang hampir tidak punya kesamaan dengan kenyataan yang ada.

Tetapi, setiap kali bank sentral ini campur tangan dan saham bergerak, ada pertanyaan yang muncul: Apakah pergerakan ini terjadi karena pasar memandang nilai yang tak terealisasikan di dalam saham-saham tersebut? Atau, apakah pergerakan tersebut hasil dari stimulus moneter saja, dan karenanya mulai menguap ketikan bank sentral ini menghentikan stimulusnya? Ekonom menyebut fenomena yang disebut belakangan sebagai moral hazard, menyelamatkan para pengambil risiko dengan menggunakan uang para pembayar pajak dan kebijakan pemerintah yang hanya mendorong semakin besarnya spekulasi berisiko.

Februari 10, 2013 Posted by | Uncategorized | , , , , | Tinggalkan komentar

Stereotip Yahudi terhadap Bangsa Lain

Stereotip merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang golongan lain yang bercorak negatif. Stereotip-stereotip tertentu dapat kita temukan dengan cara-cara riset yang khusus. Misalnya menggunakan skala-skala altitude. Salah satu skala altitude yang mudah digunakan adalah skala Bogardus. Skala Bogardus terdiri atas 7 pokok pertanyaan yang diajukan kepada responden dengan permintaan agar jawaban-jawabannya diisi dengan sejujur-jujurnya. Tujuh pertanyaan itu berkisar pada taraf kesediaan orang untuk bergaul rapat dengan salaah seorang dari golongan lain. Responden harus menjawab dengan ya atau tidak.

  1. Kesediaannya untuk menikah dengan orang dari golongan lain
  2. Kesediaannya untuk bergaul rapat dengan kawan anggota dalam klubnya
  3. Kesediaannya untuk menerimanya sebagai tetangga
  4. Kesediaannya untuk menerimanya sebagai rekan sejabatan
  5. Kesediaan untuk menerimanya sebagai warga negaranya
  6. Kesediaannya untuk menerimanya sebagai pengunjung negaranya
  7. Tidak ingin menerimanya di dalam negaranya

Berdasarkan jawaban-jawaban dari responden yang berasal dari suatu golongan tertentu, dapatlah disusun sebuah daftar urutan mengenai kesediaan golongan tersebut untuk menerima dan bergaul dengan orang-orang dari golongan-golongan lainnya. Kami kutip sebagian dari hasil suatu penelitian yang dilakukan terhadap 178 orang Yahudi yang lahir di Amerika Serikat mengenai sikapnya terhdap 18 ras lainnya. Dalam tabel kami memuat jawaban-jawaban responden terhadap pertanyaan pertama, ketiga dan ketujuh dari skala Bogardus. Angka-angka dalam tabel menunjukkan persentase responden yang menyetujui pertanyaan itu.

Apabila dipelajari, jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan (yang dicontohkan di sini hanyalah jawaban pada tiga pertanyaan), dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat jarak sosial yang sangat besar antara orang-orang Yahudi dan Negro. Sedangkan jarak antara orang Yahudi dan orang Inggris hampir tidak ada. Semuanya dilihat dari sudut golongan Yahudi. Demikian halnya apabila kita pelajari jawaban-jawaban pada pertanyaan pertama. Sedangkan apabila kita tinjau hasil pertanyaan ketujuh, maka yang paling tidak disukai oleh orang Yahudi yang diteliti bukanlah orang Negro, melainkan orang Cina dan berikutnya adalah orang Jepang. Hal ini mungkin disebabkan mereka dianggap sebagai pesaing terbesar dalam lapangan keahlian sebagai golongan, yaitu dalam hal money making. Begitulah terdapat urutan-urutan yang agak berlainan apabila dipelajari jawaban-jawaban pada pertanyaan-pertanyaan lainnya. Akan tetapi, apabila daftar urutan jarak sosial yang tersimpul dalam jawaban-jawaban setiap pertanyaan dikombinasikan, maka diperoleh suatu daftar urutan umum yang menunjukkan adanya prasangka sosial yang relatif besar atau kecil dari golongan Yahudi terhadap golongan ras atau kebudayaan lainnya.

 

Hasil jawaban 178 orang Yahudi terhadap skala Bogardus

(dari Dr. A.M.J. Chorus [3])

   
       

Ras

1

3

7

Yahudi Jerman

94,3%

97,1%

1,4%

Yahudi Rusia

84,3%

91,4%

0,0%

Inggris

80,0%

98,5%

0,0%

Prancis

54,3%

94,3%

0,0%

Jerman

52,8%

92,8%

0,0%

Irlandia

34,8%

87,1%

2,8%

Skotlandia

34,4%

88,5%

2,8%

Spanyol

24,3%

64,3%

1,4%

Armenia

14,3%

45,9%

1,4%

Italia

11,4%

55,7%

1,4%

Meksiko

4,3%

28,5%

19,1%

Jepang

2,8%

21,4%

28,5%

Turki

Yunani

2,1%

34,3%

1,4%

Cina

1,4%

21,4%

32,8%

Hindu

1,4%

21,4%

14,3%

Filipina

0,0%

27,1%

7,1%

Negro

0,0%

27,1%

10,0%

 

Sumber:

Psikologi Sosial, Dr. W.A. Gerungan, Dipl. Psych

Januari 30, 2013 Posted by | Uncategorized | , , , , , | Tinggalkan komentar

RELIGIOUS CIVIL WAR

Dua agama mayoritas di dunia, Kristen dan Islam, merupakan ideology, ajaran, paham yang sangat kuat mempengaruhi pengikutnya. Tak sedikit orang yang menjadi fanatic radikal terhadap kedua agamanya ini. Sejarah masa lalu mencatat akibat buruk dari kefanatikan kedua pengikut agama ini. Ya, sejarah kelam tersebut adalah Perang Salib. Perang yang berlangsung hampir dua abad ini mempertemukan dua pengikut agama terbesar, Kristen dan Islam dalam memperebutkan Tanah Suci Palestina dan Jerusalem.

Namun di balik itu, kedua agama ini juga mengalami intrik internal dalam agama masing-masing. Perpecahan dalam Kristen dan Islam yang disebabkan oleh banyak factor tak sedikit yang diselesaikan dengan cara kekerasan atau perang. Perpecahan yang berujung perang saudara dalam satu agama (baik Kristen maupun Islam) ini hampir tidak terjadi dalam agama-agama lain. Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit merekam sejarah perang saudara agama ini.

Pembahasan pertama tentang perang saudara dalam agama Islam. Dalam pemerintahan khalifah Usman (644-656) mulai terjadi hal-hal yang kurang baik, banyak pejabat tinggi pemerintahan berasal dari keluarganya. Golongan yang kurang senang berpendapat bahwa agar keturunan Nabi Muhammad-lah yang sebaiknya menjadi khalifah. Golongan inilah yang disebut Syi’ah. Sedangkan golongan yang menolak dan didukung oleh keluarga Ummaiyah disebut Sunnah atau Sunni. Usman yang berasal dari keluarga Ummaiyah terbunuh oleh kaum pemberontak, lalu terpilihlah Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah (656-661). Ia adalah menantu Muhammad, suami Fatimah. Golongan sunni yang bermarkas di Damsyik, Syria tidak mengakuinya sehingga terjadi perang. Perang ini disebut Perang Shiffin dan merupakan perang saudara pertama dalam sejarah Islam. Sebelum Perang Shiffin, umat Islam pernah mengalami perang saudara dalam skala kecil. Perang Jamal, namanya, adalah perang antarpengikut Ali sendiri di mana sebagian memberontak karena tidak puas dengan kepemimpinan Ali. Perang Jamal dipimpin oleh Thalhah dan Al Zubair. Keduanya adalah sahabat Muhammad. Perang Shiffin sendiri dipimpin oleh Mu’awiyah, kepala keluarga Ummaiyah melawan kepemimpinan khalifah Ali. Perang ini dimenangi oleh Ali dan kelompok Shi’ahnya. Walaupun telah memenangi Perang Shiffin, Ali masih tidak bisa tidur nyenyak. Kelompok baru dalam agama Islam telah muncul. Golongan ini bernama Khawarij. Golongan Khawarij ingin menghabisi baik Ali maupun Mu’awiyah karena menurutnya telah menyimpang dari jalan Allah.

Ali kembali ke dalam medan perang memerangi kaum Khawarij dalam Perang Nahrawan pada tahun 658. Peperangan ini dimenangkan oleh Ali. Ini adalah perang terakhir Ali yang terbunuh pada tahun 661

Setelah kematian Ali, gelar khalifah jatuh pada Mu’awiyah karena tidak ada pada kaum Shi’ah orang sekuat Ali untuk menandingi Mu’awiyah. Mu’awiyah mendirikan kekhalifahan Ummaiyah. Selama kekhalifahan inipun tak menghentikan perlawanan kaum Shi’ah untuk merebut gelar khalifah. Akhirnya pada tahun 750, Abbas Al Safah berhasil merebut kekuasaan keluarga Ummaiyah dan mendirikan kekhalifahan Abbasiyah. Peperangan saudara dalam Islam dapat dipelajari lebih mendalam dalam buku Dinasti-Dinasti Islam.

Sekarang, setelah melihat perang saudara Islam, kita mempelajari perang saudara Kristen. Sama seperti Islam, Kristen mengalami perang saudara karena terjadi perpecahan dalam penafsiran ajaran Kristen ditambah lagi pengaruh politik dalam situasi saat itu. Perpecahan terbesar dalam agama Kristen terjadi pada abad ke-14 saat Martin Luther mengajarkan Protestanisme dalam agama Kristen yang jauh mengoreksi kesalahan-kesalahan ajaran Katolik.

Pembaruan yang dilakukan oleh kaum Protestan atau Kristen menimbulkan adanya golongan yang menentang yang disebut kaum Kontrareformasi. Paus, pemimpin agama Katolik, menyelenggarakan Konsili Trente (1550-1563). Konsili yang diadakan berulang kali mengambil banyak keputusan. Di antara keputusannya tersebut adalah tidak mengakui adanya ajaran Kristen yang didasarkan Kitab Injil dan peraturan-peraturan baru yang sifatnya koreksi dalam tubuh Katolik, seperti pembaruan organisasi gereja dalam tata sekolah (seminari). Dengan kontrareformasi diharapkan agar mereka yang telah masuk Kristen dapat kembali ke Katolik.

Pembaruan agama yang mendapat tantangan terjadi hampir bersamaan dengan soal politik dengan adanya negara-negara nasional yang berusaha memperkuat dirinya. Negara nasional adalah Negara yang diperintah oleh bangsa sendiri didasarkan adanya persamaan bahasa atau kebudayaan dan menjadi kuat karena kesadaran nasional. Factor agama dan politik tersebut menimbulkan peperangan di Eropa.

Di Perancis, pertikaian agama dipimpin oleh Henri de Navarre dari keluarga Bourbon yang beragama Protestan melawan raja-raja Perancis dari keluarga Cuise yang beragama Katolik (1562-1593). Setelah raja Perancis meninggal tanpa meninggalkan putra mahkota, orang yang berhak sebagai penggantinya adalah Henri de Navarre. Tetapi, rakyat Perancis menginginkan raja yang beragama Katolik, karena itu Henri meninggalkan agama Protestan dan menjadi Katolik dengan gelar Henri IV ( 1589-1610). Tetapi, untuk kaum Protestan ia mengeluarkan Edik Nantes (1589) yang berisi bahwa kaum Protestan tetap memperoleh kebebasannya menjalankan dan mengembangkan agamanya, serta dapat memiliki tempat-tempat pertahanan diri seperti di La Rochelle.

Kerajaan Spanyol mencapai puncak kekuasaan di Eropa di bawah Philip II (1556-1598). Daerah kekuasaannya mencakup Spanyol, negeri Belanda dan Austria. Untuk memperkuat kedudukannya, inkuisisi di Spanyol disatukan dengan kekuasaan raja, sehingga badan ini bukan hanya menindak mereka yang murtad saja tapi juga terhadap mereka yang dianggap menentang raja. KotaMadrid dibangun dan dijadikan pusat pemerintahan dan Portgal pun didudukinya (1580). Perancis yang merasa makin terjepit karena daerahnya di antara kekuasaan Philip II, bersekutu dengan Negara-negara Jerman dan Inggris yang juga tidak senang dengan politik Spanyol dan kontrareformasinya. Armada Spanyol dikerahkan untuk mematahkan kekuasaan Inggris, tetapi armada tersebut dihancurkan oleh armada Inggris (1588). Spanyol kehilangan inti kekuatannya dan peristiwa itu merupakan titik tolak bagi Inggris untuk menggantikan Spanyol dalam kekuatan laut.

Perang 80 tahun merupakan Perang Kemerdekaan bangsa Belanda yang berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Spanyol. Perang ini meletus akibat terjadinya penghancuran patung (beeldenstorm) yang dilakukan oleh kaum Calvinis (golongan Protestan yang lain) terhadap gereja Katolik yang dihadapi Spanyol secara keras (1568). Raja Philip dari Spanyol mengirimkan Alva yang kejam , tetapi rakyat Belanda melawannya di bawah Willem van Oranje, seorang pangeran dari Nassau.

Perang 30 tahun terjadi karena factor agama dan politik. Negara-negara Jerman yang menjalankan reformasi berusaha juga melepaskan diri dari kekuasaan Austria yang beragama Katolik. Ditinjau dari sifat dan peserta perang, Perang 30 tahun dibagi dalam 3 fase. Fase pertama (1618-1625) daerah Bohemia di bawah raja Friedrich melepaskan diri dari kekuasaan Austria yang diperintah oleh dinasti Habsburg. Dalam rangka mengadakan kontrareformasi Negara-negara Katolik membentuk pasukan Liga Katolik. Di bawah pimpinan panglima Tilly dan Wallenstein, pasukan liga berhasil mengalahkan tentara Bohemia.

Fase kedua (1625-1629), raja Christian dari Denmark yang beragama Protestan berusaha membela negara-negara Jerman yang seagama terhadap kekuasaan Austria. Tetapi, tentara raja Christian dapat dikalahkan oleh pasukan Tilly dan Wallenstein (1629).

Fase ketiga (1629-1635), tampil raja Gustaaf Adolf dari Swedia yang memperoleh dukungan dari Richelieu (Perancis) karena tidak menginginkan Austria menjadi Negara darat Eropa yang kuat. Sementara Gustaaf Adolf juga menginginkan daerah-daerah seberang Laut Baltik dan Jerman Utara. Di kota Breitenfield, dekat Leipzig tentara Gustaaf Adolf dapat mengalahkan tentara Tilly (1631), dan kemudian mengalahkan tentara Wallenstein (1632). Tetapi, kemudian tentara Liga Katolik dapat mengalahkan Gustaaf Adolf. Wallenstein yang merasa kedudukannya makin kuat mengangkat dirinya menjadi raja Bohemia, tetapi kemudian dibunuh oleh anak buahnya.

Perang 80 tahun dan Perang 30 tahun diakhiri dengan Perjanjian Westphalen (1648)

Januari 18, 2013 Posted by | agama, politik, sejarah | , , , , | 2 Komentar

Higgs Boson, Partikel Tuhan dan Akhir Ilmu Fisika

Beberapa waktu lalu kita mendengar berita tentang ditemukannya partikel yang mampu memberi massa pada partikel lain. Partikel ini memang partikel yang dicari-cari oleh para ilmuwan fisika partikel. Ditemukannya partikel ini akan mendekatkan kita pada pengetahuan terbentuknya alam semesta sejak terjadinya Big Bang.

Sebelum terlalu jauh sedikit saya jelas mengenai partikel. Partikel adalah sebuah satuan dasar dari benda atau energi. Misalnya suatu zat dipecah maka akan menjadi partikel molekul, jika molekul dipecah maka akan menjadi partikel atom, jika atom dipecah maka menjadi partikel elektron, neutron dan proton, jika masing-masing partikel tersebut dipecah akan menjadi partikel quark, lepton dan boson. Bagaimana hubungan partikel-partikel tersebut? Quark adalah partikel-partikel yang berjumlah enam: u, c, t, d, s, b (entah mengapa kok dinamakan seperti itu). Quark inilah yang membentuk proton dan neutron yang bersama-sama membentuk inti atom. Lepton akan membentuk elektron yang bergerak di sekitar inti atom. Selain elektron, ada yang disebut muon, tauon, dan netrino. Untuk mengikat quark yang berada di inti atom dengan lepton yang berada di di luar inti atom dibutuhkan boson sebagai partikel pengikat. Jumlahnya ada lima jenis dan menghasilkan empat gaya dasar:  gaya nuklir lemah, gaya nuklir kuat, gaya gravitasi dan gaya elektromagnet.

Gaya nuklir lemah disebut boson W-Z mengikat quark untuk membentuk proton dan neutron

Gaya nuklir kuat disebut boson gluon mengikat proton dan neutron membentuk inti atom

Gaya elektromagnet disebut boson foton mengikat inti atom dengan elektron membentuk atom

Gaya gravitasi disebut boson graviton mengikat antarbenda bermassa.

Tanpa adanya empat gaya dasar tersebut, alam semesta ini akan terburai menjadi bubur quark dan lepton di mana kondisi tersebut pernah terjadi saat beberapa menit setelah alam semesta terbentuk lewat ledakan besar (Big Bang).

Lalu apa itu Higgs Boson? Higgs Boson adalah jenis boson yang memberi massa pada partikel-partikel sehingga memiliki gaya gravitasi. Sebagian ilmuwan menyebut Higgs Boson itu adalah graviton yakni partikel yang memunculkan gaya gravitasi antarbenda. Selama ini memang belum ditemukan partikel semacam itu. Namun ada juga ilmuwan yang membedakan antara Higgs Boson dan graviton. Higgs Boson adalah partikel yang memberi massa melalui suatu mekanisme tertentu (mekanisme Higgs) sedangkan graviton adalah partikel yang memediasi massa-massa tersebut. Dalam mekanisme Higgs terdapat medan Higgs yang memiliki nilai harapan vakum tak nol (tidak mungkin kosong). Medan Higgs ini akan memberi massa pada setiap partikel dasar yang terinteraksi melalui Higgs Boson dengan cara merusak simetri internal yang dimiliki oleh sistem fisis. Simetri internal adalah interaksi partikel-partikel dasar subatomik.

Lalu apa itu Partikel Tuhan? Partikel Tuhan adalah terjemahan dari God Particle. Sebetulnya pencetus awal istilah tersebut adalah ilmuwan Leon Lederman yang menyebut partikel ini dengan sebutan Goddamned Particle. Sebutan itu menggambarkan begitu sulitnya partikel ini ditemukan. Namun saat tulisan Leon Lederman dicetak istilah tersebut diganti agar tidak terlalu vulgar. Peter Higgs sendiri sebagai penemu Higgs Boson kurang setuju dengan penggunaan istilah God Particle karena memang penemuan ini tidak bersangkut paut dengan keyakinan dan bidang agama.

Lalu apa hubungannya dengan Akhir Ilmu Fisika? James Horgan dalam bukunya The End of Science menjelaskan kecemasan para ilmuwan mengenai batas dari ilmu pengetahuan itu. Dalam ilmu fisika khususnya Fisika Partikel penemuan quark merupakan awal dari kecemasan tersebut. Ilmuwan merasa ketika quark sudah tidak bisa dipecah lagi karena merupakan pilinan energi maka riset tentang Partikel dasarpun terhenti. Demikian pula pencarian partikel pemberi massa yang selama ini diteliti sudah mulai menemui titik terang dengan ditemukannya Higgs Boson. Lalu ketika semuanya itu telah ditemukan maka apa yang bisa dikembangkan oleh para ilmuwan fisika partikel? Memang perjalanan masih jauh dengan penelitian asal muasal alam semesta melalui Big Bang. Namun waktu itu akan tiba ketika misteri penciptaan alam semesta terbongkar.

Ada optimisme bahwa ilmu pengetahuan menciptakan hidupnya sendiri. Masih banyak penelitian fisika partikel yang masih harus dikaji sehubungan dengan penemuan Higgs Boson. Penelitian tersebut antara lain alat teleportasi sebagai pengembangan Spontaneous Symmetry Breaking dan Higgs Boson.

 

Kalau ada kesalahan atau kekeliruan, saya mohon maaf

Agustus 27, 2012 Posted by | Uncategorized | , , , , | Tinggalkan komentar

Pertentangan Sukarno Vs Hatta

No Perbedaan Bung Karno Bung Hatta
1 Sikap terhadap Belanda Non-Kooperatif, untuk mengobarkan semangat revolusi Kooperatif, untuk mendapatkan ruang gerak dari penguasa
2 Jenis Demokrasi Demokrasi Sentralistik, perlu pemimpin yang kuat untuk menciptakan persatuan Demokrasi Federal, perlu perbedaan dalam demokrasi seperti di parlemen sehingga mencerminkan perwakilan rakyat Indonesia
3 Persatuan Persatuan Bangsa, tidak membedakan status dan golongan Kedaulatan rakyat, termasuk perbedaan di kalangan rakyat sehingga sesuai denga Teori Perjuangan Kelas
4 Strategi Perjuangan Kekuatan nyata melalui aksi atau gerakan massa revolusioner Pendidikan politik untuk rakyat
5 Sikap terhadap Jepang Kooperatif, karena punya musuh bersama (Belanda), kesempatan membangkitkan kesadaran rakyat, dan membentuk barisan persatuan Non-Kooperatif, karena melihat Jepang akan kalah perang. Namun kemudian Bung Hatta mengalah dan mengikuti Bung Karno
6 Batas Wilayah RI Papua dan Malaka masuk dalam RI karena sudah jatuh ke tangan Jepang Tidak termasuk Papua dan Malaya karena bukan wilayah Hindia Belanda
7 Bentuk Negara RI Kesatuan Federal/Serikat
8 Hak Asasi Manusia Tidak perlu dimasukkan Konstitusi karena akan menimbulkan kapitalisme Perlu dimasukkan ke Konstitusi agar tidak terjadi kekuasaan absolut negara
9 Sistem Pemerintahan Presidensial, karena demokrasi individualisme ala Barat menimbulkan dominasi mayoritas Parlementer, karena pembagian kekuasaan yang melibatkan pemerintah dapat menjalankan fungsi legislatif sehingga menteri harus bertanggung jawab kepada Dewan/Parlemen
10 Sikap Revolusionis, berdasar revolusi Reformis, perubahan sesuai tatanan hukum

Agustus 27, 2012 Posted by | politik, sejarah | , , , , , | Tinggalkan komentar