Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Anomali Pilgub Jatim, bagaimana KarSa bisa menang?

Pertama kali dalam sejarah quick count penghitungan suara pemilihan kepala daerah/gubernur terjadi ketidak akuratan. Ya, beberapa lembaga survei (tepatnya 5 lembaga survei) yang melansir hasil penghitungan cepat pemilihan gubernur Jawa Timur menyatakan pasangan Ka-Ji (Khofifah-Mudjiono) unggul atas pasangan KarSa (Soekarwo-Saifullah Yusuf). Berikut hasil quick count 4 lembaga survei tersebut:

Lingkaran Survei Indonesia: Ka-Ji = 50.76%, KarSa = 49.24%

Lembaga Survei Indonesia: Ka-Ji = 50.44%, KarSa = 49.56%

Puskaptis: Ka-Ji = 50.83%, KarSa = 49.17%

PusdeHAM: Ka-Ji = 50.29%, KarSa = 49.71%

Lembaga Survei Nasional: Ka-Ji = 50.72%, KarSa = 49.29%

Hasil Komisi Pemilihan Umum Daerah Jawa Timur sendiri adalah Ka-Ji memperoleh 49.81% dan KarSa memperoleh 50.19%. Hasil KPUD Jatim ini diumumkan pada saat rapat pleno rekapitulasi suara di Ballroom Hotel Grand Mercure, Darmo, Surabaya tanggal 11 November 2008 pukul 15.30 WIB. Pilgub Jatim yang dimenangi duet Soekarwo-Saifullah Yusuf ini sontak mengagetkan dan membuat pendukung Ka-Ji emosional. Ada 2 pertanyaan yang timbul seputar hal ini. Pertama, apakah hasil quick count memang tidak akurat? Kedua, apakah terjadi kecurangan dalam pilgub Jatim?

Pertanyaan pertama akan kita coba jawab dengan beberapa asumsi. Pertama, quick count memiliki margin errors 1-2%. Dari margin errors tersebut, hasil quick count dapat berubah sebesar 1-2% baik berubah ke atas atau menambah suara maupun berubah ke bawah atau mengurangi suara. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah kalau ada margin errors, mengapa kelima lembaga survei menunjukkan hasil yang sama? Seharusnya kelima lembaga survei tersebut menunjukkan hasil yang berbeda-beda dengan selisih perbedaan sebesar margin erros tersebut. Kecuali kalau responden atau TPS yang disurvei adalah sama. Jadi, saya rasa toleransi margin errors aneh jika dipakai sebagai alasan mengapa hasil quick count berbeda dengan hasil rekapitulasi KPUD Jatim.

Kedua, bekerjanya mesin politik partai-partai pendukung pasangan KarSa. Jika mesin-mesin politik partai bekerja, seharusnya suara yang diperoleh KarSa jauh lebih banyak atau meninggalkan perolehan suara Ka-Ji. Nyatanya, dari pengumuman KPUD Jatim selisih suara kedua pasangan ini hanya 0.38% atau hanya kurang dari 61.000 suara. Padahal, ada 5 partai besar di belakang KarSa yaitu PAN, Demokrat, Golkar, PKS dan PKB. Jadi, jika melihat perolehan suara KarSa yang hanya berselisih sangat sedikit dengan Ka-Ji sepertinya tidak mungkin mesin partai pendukung KarSa bekerja secara optimal.

Ketiga, figur KarSa lebih dikenal ketimbang Ka-Ji. Asumsi ini sangat relatif. Jika dilihat dari figur calon gubernur, baik Soekarwo maupun Khofifah sama-sama terkenal walaupun saya rasa Khofifah lebih dikenal karena dia adalah mantan menteri dan Ketua Muslimat NU. Sedangkan Soekarwo hanya seorang birokrat (Sekdaprov) yang turun ke bawah baru setelah mencalonkan diri. Soekarwo lebih sibuk di pusat walaupun ada juga tugasnya yang turun ke masyarakat bawah. Namun itu terbatas. Selain itu, dari komposisi pemilih, perempuan lebih banyak daripada laki-laki dan cenderung memilih gender yang sama. Dilihat dari figur calon wakil gubernur, Saifullah Yusuf jauh lebih dikenal ketimbang Mudjiono. Gus Ipul adalah mantan Ketua GP Ansor. Namun, bagi orang NU pendukung Gus Dur seharusnya tahu bahwa Gus Ipul adalah salah satu dari 4 orang yang dipecat Gus Dur dari kepengurusan PKB karena dinilai terlalu berambisi politis (Tiga orang lainnya adalah Muhaimin Iskandar, Matori Abdul Jalil dan Alwi Shihab). Apakah sikap Gus Dur tersebut berpengaruh terhadap pendukungnya? Saya rasa tidak. Gus Ipul tetap direstui oleh beberapa kiai khos yang tentu saja menambah pundi-pundi suaranya.

Dari ketiga asumsi di atas, hanya asumsi ketiga yang memenuhi syarat.

Sekarang kita coba menajwa pertanyaan kedua juga dengan beberapa asumsi. Pertama, dukungan PDIP terhadap pasangan Ka-Ji seharusnya mendongkrak perolehan suara pasangan ini. ini terbukti dari perolehan suara Ka-Ji yang hampir mendekati kemenangan. Dilihat dari konstituen PDIP yang solid dan kolot (setia) dengan garis partainya maka tak heran kalau Ka-Ji memperoleh suara tambahan sebanyak itu atau bahkan menang. Berbeda dengan partai pendukung KarSa yang mesin politiknya tidak berjalan, mesin politik PDIP berjalan optimal. Hal ini dapat dilihat pada saat Megawati bersama Sutjipto turun langsung menginstruksikan kadernya memilih Ka-Ji. Di 2 daerah lain pun yang bukan “kandang banteng”, PDIP menempati urutan kedua dalam pemilihan gubernur. Dua daerah tersebut adalah Jawa Barat dan Sumatra Utara. Ini menandakan mesin PDIP berjalan optimal segabai akibat konsistensinya menjadi oposisi. Memang, dukungan PDIP sangat signifikan tapi tidak menentukan kemenangan Ka-Ji. Pernyataan ini dapat disanggah dengan argumen bahwa PDIP tidak bekerja sendirian. Ada dua partai lain yang walaupun kecil namun berpengaruh yaitu PPP dan Partai Patriot. PPP akan menjangkau pemilih muslim nonNU dan Partai Patriot akan menjangkau anak-anak muda sebagai pemilih pemula. jadi aneh kalau KarSa bisa menang.

Kedua, demografi dan geografi Jawa Timur yang sama dengan daerah lain di Jawa seharusnya menggambarkan bahwa hasil quick count tidak jauh dengan hasil resmi KPUD Jatim. Tapi nyatanya, berkebalikan. Di Jawa Barat misalnya, pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (HaDe) yang relatif belum dikenal masyarakat, berdasarkan hasil quick count memenangi pemilihan guberbur Jawa Barat dan hasil KPUD Jabar tidak jauh beda. Demikian pula pilgub di Jateng. Anehnya di Jawa Timur yang notabene demografi dan geografinya relatif sama dengan di Jabar dan Jateng, hasil quick countnya berbeda dengan hasil KPUD.

Ketiga, kemungkinan terjadinya kecurangan. Hal ini sudah diprediksi sebelumnya. Soekarwo yang merupakan seorang birokrat memiliki potensi dan peluang melakukan kecurangan karena memiliki banyak koneksi. Kecurangan itu misalnya adalah penggelembungan suara pasangan KarSa di TPS 10 Desa Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo Kabupaten Madiun. Di sana, suara KarSa bertambah sebesar 100 suara di rekapitulasi tingkat kecamatan. Selain itu, di TPS 1 Desa Alas Kembang, Madura, Ka-Ji memperoleh 440 suara dan KarSa memperoleh 48 suara. Namun, di tingkat PPK suaranya dibalik. KarSa memperoleh 440 suara dan Ka-Ji memperoleh 48 suara. Kecurangan lain adalah politik uang. Tak jauh-jauh, malam hari selepas pemungutan suara, remaja pemuda di RT saya sedang “cangkruk’an” di balai RT sambil ngobrol-ngobrol tentang pilgub Jatim. Dari situ terungkap bahwa seseorang akan memberi uang Rp 20.000 untuk mencoblos pasangan KarSa. Hal itu diungkap teman saya sendiri yang ditawari oleh orang tersebut dan diiyakan oleh teman saya yang lain.

Jelas sudah sekarang. Kita dapat melihat bagaimana pasangan KarSa dapat memenangi Pemilihan Gubernur Jatim.

November 11, 2008 - Posted by | politik | , ,

1 Komentar »

  1. Sepakat, ADA APA DENGAN SEMUA INI, Tapi 1 hal belum di bahas, keterlibatan genk JAKARTA BOY.

    Komentar oleh Inspekd | November 19, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: