Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

SALIB, LAMBANG PAGANKAH?

Pertanyaan ini sering kali muncul dalam perdebatan antaragama. Mengingat salib telah lama digunakan oleh peradaban manusia jauh sebelum kekristenan. Jika pertanyaan itu diajukan kepada saya maka saya akan menjawab ”maybe yes maybe no”. Saya katakan ya karena tidak bisa dipungkiri bahwa agama-agama pagan sebelum kristen telah menggunakannya sebagai lambang. Saya juga dapat mengatakan tidak karena salib kristen memiliki makna yang berbeda dengan salib pagan. Sedikit pengetahuan bahwa sebelum kekristenan, salib digunakan sebagai lambang para penyembah dewa matahari. Namun kini lambang salib kristen telah memiliki makna yang berbeda dengan salib pagan. Pertanyaan kemudian muncul mengapa kekristenan mengadopsi lambang pagan? Jawabannya tak lain karena salib mencerminkan kekristenan. Hal ini bukan berarti kekristenan adalah pagan tapi pemaknaan yang digunakan pada salib oleh kekristenan adalah cerminan kekristenan itu sendiri. Kita dapat saja menolak lambang salib karena telah digunakan oleh agama pagan. Bahkan tak usah jauh-jauh, Yesus pun mati disiksa di tiang salib. Bukankah itu sesuatu yang tidak berperikemanusiaan bahwa salib adalah lambang penyiksaan. Namun, kekristenan adalah ajaran spiritual dan moral. Itu pulalah yang ingin ditunjukkan oleh atau di dalam salib. Makna salib dalam kekristenan adalah hubungan vertikal dan horisontal. Hubungan vertikal garis tegak lurus melambangkan ajaran spiritual kristen yaitu bagaimana jalan yang benar berhubungan dengan sang pencipta, Tuhan itu sendiri. Sedangkan hubungan atau garis mendatar melambangkan ajaran moral kristen yaitu bagaimana cara hidup yang benar berhubungan dengan sesama manusia dan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.
Lalu mengapa garis atau hubungan vertikal yang menggambarkan ajaran spiritual lebih panjang dari garis atau hubungan horisontal yang menggambarkan ajaran moral? Jawabannya karena tulisan huruf spiritual lebih panjang dari tulisan huruf moral. Itu jawaban leluconnya. Sebenarnya ajaran spiritual menjadi tiang pondasi dari hubungan moral kita dengan sesama manusia. Setiap hubungan antarmanusia harus dilandasi dengan ajaran hubungan kita pribadi dengan manusia. Sesuai dengan Sila ke-1 Pancasila KeTuhanan YME yang mengajarkan kerukunan hidup antarumat beragama. Kekristenan mengajarkan tentang kebaikan terhadap dan hidup rukun antarmanusia. Hal itu terjadi dengan landasan agama yang kuat karena agama yang dari Tuhan pasti mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Menurut saya, sulit dapat dilakukan orang dapat menghargai sesamanya tanpa sebelumnya memiliki hubungan yang baik dengan penciptanya. Walaupun orang-orang atheis pun dapat hidup toleransi dengan sesamanya tapi dia tidak punya pondasi untuk mempertahankan toleransinya karena secara pribadi dia bebas karena dia (orang atheis) merasa tidak diciptakan oleh Tuhan dan tidak memiliki ikatan pribadi atau rasa takut kepada hukuman Tuhan. Orang atheis mungkin dapat bersikap toleran karena hukum duniawinya mewajibkannya berbuat demikian.Tapi bayangkan jika pimpinan duniawinya orang atheis maka dia pun juga merasa bebas membuat hukum yang tidak sesuai dengan kebenaran dan kebaikan.
Lalu mengapa harus ada garis atau hubungan horisontal yang melambangkan ajaran moral? Bukankah sebenarnya ajaran spiritual sudah mencakup ajaran bagaimana berhubungan dengan sesama yang benar. Jawabannya adalah karena di dunia ini tidak cuma ada satu agama melainkan berbagai macam agama yang memiliki ajaran yang berbeda. Oleh karena itu ajaran moral diperlukan untuk menyikapi perbedaan yang ada. Perbedaan-perbedaan itu bukan untuk dipersamakan dengan satu ajaran spiritual yang sama pula dan juga bukan pula memisahkan antara ajaran spiritual dan ajaran moral. Kekristenan bukan ajaran sekuler yang memisahkan urusan duniawi atau ajaran moral dengan urusan rohani atau ajaran spiritual melainkan kekristenan cenderung plural atau dapat menerima perbedaan. Dalam kekristenan banyak sekali terdapat perbedaan yang tercermin dalam denominasi-denominasi. Dan kekristenan mengakui hal tersebut selama masih berada dalam jalur yang benar. Batasan perbedaan iman kekristenan adalah pengakuan iman rasuli. Selama denominasi tersebut mengakui pengakuan iman rasuli maka dia dapat diterima dalam kekristenan. Tetapi jika menolak pengakuan iman rasuli maka itu disebut bida’at (bidah) atau sesat atau tidak dianggap dalam rumpun kekristenan.

Agustus 7, 2009 - Posted by | agama | , ,

2 Komentar »

  1. Lam kenal.😀

    Komentar oleh Fietria | Agustus 26, 2009 | Balas

  2. Terima kasih atas Share nya….
    Jangan sungkan datang juga ke Blog kami, Tuhan memberkati :

    http://bandunggrace.wordpress.com/2012/04/16/kasih-karunia-2/

    Komentar oleh padasaatnya | Januari 17, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: