Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

DPR 1955: Antara versi Umum dan versi Resmi

Suatu ketika di bulan Agustus 2009, saya membantu sebuah panitia Karang Taruna mengadakan lomba Cerdas Cermat untuk perayaan HUT ke-64 RI. Saya kebagian membuat daftar pertanyaan untuk kuis cerdas cermat tersebut. Setelah saya membuat beberapa pertanyaan, saya serahkan kepada panitia untuk dikoreksi. Semuanya setuju baik dengan pertanyaannya maupun dengan jawabannya. Namun seorang rekan menyangsikan sebuah jawaban yang saya buat untuk sebuah pertanyaan. Saya mengenal rekan yang jauh lebih muda dari saya ini sebagai anak yang cerdas dan pandai. Dia bersekolah di almamater saya SMA Negeri 5 Surabaya. Pertanyaan adalah “Siapakah Partai Pemenang Pemilu tahun 1955?” dan jawaban saya adalah “Masyumi” berdasarkan perolehan kursi DPR yang dimuat di buku “Dasar-Dasar Ilmu Politik” karangan Miriam Budiardjo. Namun menurut rekan saya adalah “PNI”. Akhirnya saya mulai mengkajinya kembali.
Dalam mempelajari sejarah Orde Lama saya menemui kesulitan dengan sebuah fakta sejarah. Fakta sejarah tersebut mengenai komposisi kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat hasil Pemilihan Umum tahun 1955. Sejauh ini kita tahu bahwa di bawah Perdana Menteri Burhanuddin Harahap tahun 1955 tepatnya tanggal 29 September pemerintah telah melaksanakan pemilihan umum untuk memilih anggota DPR dan dilanjutkan pada tanggal 15 Desember 1955 untuk pemilihan anggota Konstituante sebuah majelis yang memiliki kewajiban utama membentuk sebuah Undang-Undang Dasar yang baru menggantikan UUD Sementara 1950. Hasil dari pemilihan tersebut memunculkan empat partai besar pemenang yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI), Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Nahdlatul Ulama (NU), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Semua pihak mengamini hal ini.
Perbedaan, kerancuan, dan kebingungan mulai muncul di sini ketika dikaji mengenai partai manakah yang menempati urutan pertama atau pemenang pemilu 1955 dan partai yang menempati urutan kedua atau runner-up. Ternyata dua partai yang berebut kedua tempat terhormat tersebut tak lain adalah PNI dan Masyumi. Dan, dari dua sumber yang berbeda menempatkan mereka pada posisi yang berbeda. Sumber umum menempatkan PNI sebagai pemenang pemilu sedangkan sumber resmi menempatkan Masyumi sebagai pemenang pemilu.
Sumber resmi tersebut adalah Sekretariat Negara yang dikutip oleh Miriam Budiardjo dalam bukunya “Dasar-Dasar Ilmu Politik” menjabarkan perolehan kursi partai-partai empat besar pemenang pemilu 1955. Dijelaskan dalam sumber ini bahwa jumlah anggota DPR pada tahun 1956 sebagai hasil pemilu 1955 adalah 272 orang. Dari jumlah tersebut 60 anggota merupakan wakil Masyumi, 58 wakil PNI, 47 wakil NU, 32 wakil PKI dan selebihnya anggota-anggota dari sejumlah partai-partai kecil. Jumlah fraksi adalah 18 dan 2 orang wakil yang tidak berfraksi. Sumber ini diperkuat dalam sumber yang berasal dari DPR sendiri yaitu “Seperempat Abad DPR-RI” dan keterangan-keterangan dari Seksi Dokumentasi DPRGR. Selain itu situs http://www.dpr.org (situs ini mungkin versi lama dari situs DPR yang sekarang http://www.dpr.go.id )juga mencatat hal serupa. Kelemahan dari sumber resmi adalah tidak mencantumkan secara spesifik perolehan suara masing-masing partai peserta pemilu 1955. Sumber resmi hanya memuat perolehan kursi partai-partai peserta pemilu 1955 di DPR
Sumber umum menyatakan bahwa pemenang pemilu 1955 adalah PNI. Sumber umum yang dimaksud adalah referensi-referensi yang beredar dalam literatur-literatur umum. Salah satunya situs id.wikipedia.org yang memuat secara lengkap perolehan suara partai-partai peserta pemilu 1955. Situs http://www.kpu.go.id yang diakses tanggal 18 Desember 2005 dan situs http://www.pemiluindonesia.com juga menyebutkan hal yang demikian. Sumber lain yang dapat dibilang semi-resmi adalah buku pelajaran Sejarah SLTP Kelas 3 Kurikulum 1994 Penerbit “Bina Siswa” yang pastinya sudah melalui proses editan dan persetujuan pemerintah sehingga bisa dibilang resmi ini juga mendukung PNI sebagai pemenang pemilu 1955. Secara rinci 4 besar partai pemenang pemilu 1955 disebutkan bahwa PNI memperoleh 8.434.653 suara (22,32%) dengan 57 kursi, Masyumi memperoleh 7.903.886 suara (20,92%) dengan 57 kursi, NU memperoleh 6.955.141 suara (18,41%) dengan 45 kursi dan PKI memperoleh 6.179.914 suara (16,36%) dengan 39 kursi. Kursi DPR antara PNI dan Masyumi memang sama hanya perolehan suaranya yang berbeda dan perolehan kursi di majelis Konstituante yang berbeda. PNI memperoleh 9.070.218 suara (23,97%) dengan 119 kursi Konstituante sedangkan Masyumi memperoleh 7.789.619 suara (20,59%) dengan 112 kursi Konstituante. Data ini hampir diterima umum dan dijadikan rujukan di hampir semua buku dan situs. Oleh karena itu, saya menyebutnya versi umum
Lalu manakah versi yang benar? Versi resmi atau versi umum? Menurut saya mungkin kedua versi tersebut benar. Hal ini saya dasarkan pada sistem pemilu yang kita pakai. Mengingat bahwa sistem yang dipakai adalah sistem perwakilan berimbang. Dalam sistem ini pemenang pemilu belum tentu mendapat kursi lebih banyak. Hal yang sama terjadi juga dalam pemilu 2004 di mana PKB yang memperoleh suara 2 juta lebih di atas PPP memperoleh kursi yang lebih sedikit. PKB memperoleh 52 kursi dan PPP 58 kursi. Hal ini disebabkan PKB menang di daerah-daerah yang keterwakilan kursinya sedikit sehingga banyak suara yang hangus. Hal demikian pulalah yang mungkin terjadi dalam pemilu dan komposisi DPR tahun 1955 di mana PNI yang memperoleh suara yang paling banyak namun kursi yang paling banyak direbut oleh Masyumi. Tapi mungkin pendapat saya ini keliru dan ada pendapat lain yang mungkin lebih dapat menjelaskan dengan spesifik. Selain itu masih perlu kajian yang lebih mendalam di dalam dokumen-dokumen sejarah resmi miliki pemerintah yang tentu lebih otentik sehingga kita tahu hasil pemilu 1955 yang sebenarnya. Lagi pula versi umum bagaimana dapat keluar atau terpublikasi bahkan termuat dalam buku sejarah sekolah kalu tidak berasal dari sumber resmi.

September 5, 2009 - Posted by | sejarah | , , , , ,

4 Komentar »

  1. Menurut saya partai pemenang pemilu 1955 adalah masyumi.

    Komentar oleh Erwin. | November 4, 2013 | Balas

    • Kalau boleh tau alasannya apa ya?

      Komentar oleh ericktristanto | November 17, 2013 | Balas

  2. sangat membantu tugas saya, thnks gan

    Komentar oleh aridhoprahasti | Maret 5, 2014 | Balas

    • kembali kasih

      Komentar oleh ericktristanto | Maret 5, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: