Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Mazhab/Aliran Ilmu Ekonomi (Schools of Economics)

1. Skolastik
Ciri utama dari aliran ini adalah kuatnya hubungan antara ekonomi dengan masalah etis serta besarnya perhatian pada masalah keadilan. Asumsi-asumsi aliran ini adalah: (i) Kepentingan-kepentingan ekonomi adalah sub-ordinat dari pengorbanan; (ii) Perilaku ekonomi adalah salah satu aspek perilaku pribadi yang terkait dengan aturan-aturan moralitas. Tokohnya adalah Albertus Magnus dan Thomas Aquinas.

2. Merkantilisme
Menurut aliran ini, setiap negara yang berkeinginan untuk maju harus melakukan perdagangan dengan negara lain. Sumber kekayaan negara akan diperoleh melalui surplus perdagangan luar negeri yang akan diterima dalam bentuk emas atau perak. Jadi sumber kekayaan negara adalah dari perdagangan luar negeri. Selanjutnya, uang sebagai hasil surplus perdagangan adalah sumber kekuasaa. Tidak heran kalau kebijakan perdagangan waktu itu sangat mendorong ekspor dan sedapt mungkin berusaha agar impor dibatasi. Tokohnya adalah Jean Boudin, Thomas Munn, Jean Baptist Colbert, David Hume. Boudin berpendapat bertambahnya uang yang diperoleh dari perdagangan luar negeri dapat menyebabkan naiknya harga barang-barang. Selain itu, kenaikan harga barang-barang juga dapat disebabkan oleh praktik monopoli serta pola hidup mewah di kalangan kaum bangsawan. Dalam praktik ekonomi banyak terjadi aliansi antara para saudagar dengan penguasa. Kaum saudagar memperkuat dan mendukung penguasa. Penguasa pun memberi bantuan dan perlindungan berupa monopoli, proteksi dan keistimewaan-keistimewaan lain.

3. Fisiokratik
Kaum fisiokrat menganggap bahwa sumber kekayaan yang senyata-nyatanya adalah sumber daya alam. Aliran ini percaya bahwa alam diciptakan Tuhan penuh keselarasan dan keharmonisan. Hukum alam yang penuh dengan keselarasan dan keharmonisan ini berlaku kapan saja, di mana saja, dan dalam situasi apa pun (bersifat kosmopolitan). Kaum fisiokrat percaya bahwa sistem perekonomian jug mirip dengan alam yang penuh harmoni. Dengan demikian, setiap tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhannya masing-masing juga akan selaras dengan kemakmuran masyarakat banyak. Beri manusia kebebasan dan biarkan mereka melakukan yang terbaik bagi dirinya masing-masing. pemerintah tidak perlu campur tangan dan alam akan mengatur semua pihak akan senang dan bahagia. Inilah cikal bakal doktrin klasik laissez faire laissez passer. Tokoh utamanya adalah Francis Quesnay. Quesnay membagi masyarakat menjadi empat golongan yaitu: (i) kelas produktif yang aktif mengolah tanah; (ii) kelas tuan tanah; (iii) kelas nonproduktif seperti saudagar dan pengrajin; (iv) kelas buruh yang menerima upah dari tenaganya. Quesnay menganjurkan agar kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah harus ditujukan terutama untuk meningkatkan taraf hidup para petani atau kaum produktif.

4. Teori Klasik
Tokoh utamanya adalah Adam Smith. Smith berpendapat bahwa sifat egoistis manusia akan memacu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan secara keseluruhan. Sikap egoistis ini tidak akan mendatangkan kerugian dan merusak masyarakat sepanjang ada persaingan bebas. Setiap orang yang menginginkan laba dalam jangka panjang (artinya serakah), tidak akan pernah menaikkan harga di atas tingkat harga pasar. Smith juga menyatakan bahwa setiap barang memiliki nilai guna dan nilai tukar. Nilai tukar ditentukan biaya-biaya untuk memproduksinya. Jadi barang yang memiliki nilai guna tinggi belum tentu nilai tukarnya tinggi pula. Misalnya air dan intan, air lebih berguna dari intan tapi tidak lebih mahal dari intan karena biaya memproduksi intan lebih besar dari pada biaya untuk memproduksi air (Teori Nilai). Pendapat Smith yang lain adalah bahwa produktivitas tenaga kerja dapat ditingkatkan melalui pembagian kerja (Teori Pembagian Kerja). Teori akumulasi kapital menyatakan cara terbaik untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya ialah dengan investasi yaitu membeli mesin-mesin dan peralatan. Dengan mesin-mesin dan peralatan yang lebih canggih maka produktivitas pekerja akan semakin meningkat. Peningkatan produktivitas pekerja akan meningkatkan produksi perusahaan. Jika semua perusahaan melakukan hal yang sama, output nasional yang juga berarti kesejahteraan masyarakat, akan meningkat pula.

5. Sosialisme
Sosialisme dimaksudkan untuk menunjukkan sistem-sistem pemilikan dan pemanfaatan sumber-sumber produksi (selain labor) secara kolektif. Sosialisme menggambarkan pergeseran milik kekayaan dari swasta ke pemerintah yang berlangsung secara bertahap melalui prosedur peraturan pemerintah dengan memberikan kompensasi pada pemilik-pemilik swasta. Sedangkan komunisme menggambarakan peralihan pemilikan dari swasta ke tangan pemerintah yang terjadi secara cepat dan revolusioner, dilakukan secara paksa dan tanpa kompensasi.
a. Sosialisme Utopis
Tokohnya adalah Thomas More. Ia berpendapat semua milik merupakan milik bersama, segala kebutuhan disediakan secara bersama-sama. Untuk menghasilkan barang dan jasa, semua orang harus bekerja. Masyarakat dianjurkan untuk hidup sederhana. Orang tidak perlu bekerja mati-matian dalam waktu terlalu lama, melainkan cukup sekedar dapat memenuhi kebutuhan dengan bekerja sekitar enam jam setiap hari. Dalam hidup penuh kebersamaan ini, uang tidak diperlukan. Pakaian semua orang seragam. Perhiasan emas dan perak tidak dihargai. Pemerintahan dijalankan secara demokratis dan pimpinan untuk seumur hidup adalah merupakan hasil pemilihan rakyat. Saint Simon menganjurkan perlu ada suatu lembaga yang mampu melakukan pengawasan yang bertugas mengawasi penggunaan sistem produksi yang saat itu dikuasai oleh kaum feodal agar dapat mensejahterakan sebesar-besarnya bagi masyarakat. Anggota dari lembaga pengawas tersebut adalah scientist, teknisi dan para pimpinan pengusaha.
b. Sosialisme Komunitas Bersama
Oleh Charles Fourier diilustrasikan sebagai berikut: suatu unit komunitas yang terdiri dari 800-2000 orang yang tinggal dalam suatu apartment hotel secara bersama yang di dalamnya terdapat toko-toko untuk melayani kebutuhan setiap orang. Apartment hotel tersebut dikelilingi oleh daerah pertaniannya sendiri, tempat kebutuhan makanan akan dihasilkan. Dalam komunitas tersebut setiap orang harus bekerja menurut kesukaan, kecakapan, dan bakat masing-masing. pada akhir tahun pembukuan, keuntungan dibagi menurut prestasi kerja, kapital dan kecakapan masing-masing. pekerja memperoleh 5/12 bagian, manajer memperoleh 4/12 bagian dan pemilik modal memperoleh 3/12 bagian.

6. Marxisme
Marxisme melihat bahwa akumulasi kapital di tangan kaum kapitalis memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi, pembangunan dalam sistem kapitalis sangat bias terhadap pemilik modal. Untuk bisa membangun secara nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, perlu dilakukan perombakan struktural melalui revolusi sosial. Langkah berikutnya, penataan kembali hubungan produksi, khususnya dalam sistem pemilikan tanah, alat-alat produksi dan modal. Sejarah masyarakat pada hakikatnya adalah sejarah pertentangan kelas. Di jaman kuno ada tuan/majikan dan budaknya. Di jaman pertengahan ada tuan tanah dan hamba sahaya yang menggarap tanah milik tuannya. Di jaman modern ada pengusaha yang memiliki alat-alat produksi dan buruh yang menjual tenaga kerjanya. Selain itu, ada masyarakat kelas kaya dan masyarakat kelas miskin. Kelas yang lebih bawah selalu berusaha untuk membebaskan dan meningkatkan status kesejahteraan mereka (teori pertentangan kelas). Nilai dari hasil kerja para buruh jauh lebih besar dari jumlah yang diterima mereka sebagai upah alami. Kelebihan nilai produktivitas kerja buruh atas upah alami disebut sebagai nilai lebih yang dinikmati oleh para pemilik modal. Menurut Marx, nilai dari suatu komoditas ditentukan oleh nilai labor yang diejawantahkan secara langsung maupun tidak langsung dalam komoditas plus laba (teori nilai lebih). Marx juga berpendapat bahwa semua kelompok masyarakat akan mengalami fase-fase sebagai berikut: komunisme primitif (persukuan), perbudakan, feodalisme, kapitalisme, sosialisme, dan komunisme.

7. Revisionisme
Pakar-pakar sosialis yang menganggap kejatuhan kapitalisme tidak harus melalui revolusi kekerasan inilah yang diklasifikasikan sebagai aliran revisionisme atau deviationists (karena banyak perbedaan dengan Marx). Untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat, terutama kaum buruh di negara-negara kapitalis, sebaiknya dilakukan dengan menegakkan demokrasi. Salah satunya dengan melibatkan diri dalam gerakan-gerakan serikat perburuhan demi memperbaiki posisi tawar-menawar kaum buruh. Tokohnya Edward Bernstein menyatakan konflik antara kapitalis dan buruh akan melemah. Kaum buruh yang tingkat kesejahteraannya meningkat, tidak mempunyai alasan untuk melakukan revolusi menjatuhkan kapitali. Dengan semakin baiknya pendidikan masyarakat dan dilakukannya pencerahan serta ditingkatkannya nilai-nilai demokrasi maka kejahatan atau keburukan kapitalisme secara perlahan akan berkurang dengan sendirinya. Dalam jangka panjang masyarakat yang sudah lebih terdidik ini akan memilih sosialisme secara sukarela tanpa harus melalui revolusi dengan kekerasan.

8. Aliran Kiri Baru
Aliran Kiri Baru dapat diartikan sebagai kombinasi dari Marxisme-Leninisme Ortodoks dengan pemikiran-pemikiran radikal baru. Secara keseluruhan, Aliran Kiri Baru lebih dari sekedar kebangkitan kembali pemikiran-pemikiran Marxisme. Akan tetapi, dalam kenyataannya, berbeda dalam berbagai hal dari pemikiran kaum Marxisme Ortodoks. Kaum Radikal (sebutan penganut Aliran Kiri Baru) walaupun banyak mengritik kapitalisme, tidak dengan sendirinya mereka setuju atau mendukung praktik pelaksanaan sosialisme melalui perencanaan terpusat. Kaum Radikal lebih menyukai gagasan desentralisasi administrasi dan sosialisme pasar. Kaum Radikal sependapat dengan Kaum Marxis bahwa kapitalisme merupakan sistem yang bobrok dan tidak harmonis dan perlu ditransformasi menjadi suatu masyarakat sosialis baru. Kaum Radikal berpendapat bahwa kelas pekerja di negara-negara kapitalis sudah terintegrasi ke dalam masyarakat kapitalis dan tidak bisa diharapkan untuk melaksanakan reformasi radikal. Kaum Kiri Baru percaya bahwa para buruh teralienasi dari pekerjaan mereka karena para buruh dipisahkan dari kontrol atas pekerjaan mereka. Para pekerja diisolasi dari pengambilan keputusan.

9. Neo Klasik
Para pakar neo-klasik di atas dalam membahas ramalan Marx menggunakan konsep analisis marjinal. Beberapa penulis ekonomi menyebut langkah yang sudah dilakukan para pakar ekonomi neo klasik tersebut sebagai revolusi marjinal, sebab telah ditemukan suatu analisis baru yaitu pendekatan marjinal. Analisis marjinal pada intinya merupakan pengaplikasian kalkulus diferensial terhadap tingkah laku konsumen dan produsen serta penentuan harga-harga di pasar. Tokoh terdahulunya adalah Heindrich Gossen. Menurutnya, manfaat tambahan (marginal utility) dari pengonsumsian suatu macam barang akan semakin turun jika barang yang sama dikonsumsi semakin banyak dan bahwa sumber daya dan dana yang tersedia selalu terbatas secara relatif untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang relatif tak terbatas. Dengan adanya kendala (constraint)ini, kepuasan maksimum yang bisa diperoleh terjadi pada saat manfaat tambahan sama untuk tiap barang yang dikonsumsi tersebut dengan syarat semua sumber daya dan dana terpakai habis seluruhnya.
a. Mazhab Austria
Pandangan mereka mempunyai ciri-ciri tersendiri yaitu penerapan kalkulus dalam pengembangan teori-teori mereka. Kontribusi mereka antara lain mengembangkan toeri utilitas marjinal oleh Karl Menger, menambahkan formulasi biaya-biaya oportunitas oleh Friedrich Weiser, pengembangan teori tentang modal dan tingkat suku bunga oleh Eugen Bohm Bawerk, asimilasi analisis keseimbangan umum Walras dengan teori kapital dan suku bunga menjadi teori distribusi oleh Knut Wicksell, aplikasi teori kepuasan marjinal untuk mengembangkan teori baru tentang uang yaitu bahwa kepuasan dapat diukur secara cardinal tetapi tidak secara ordinal oleh von Mises
b. Mazhab Lausanne
Leon Walras mampu memberikan kisi yang lebih jelas tentang interdependensi bagian-bagian ekonomi ini dengan gamblang dengan model keseimbangan umumnya. Ia menguraikan bahwa perubahan dalam suatu faktor atau bagian ekonomi akan membawa perubahan pada variabel-variabel lain dalam sistem ekonomi tersebut secara menyeluruh. Wassily Leontief kemudian mengembangkan konsep analisis input-output atas dasar matematika yang dikembangkan Walras. Vilfredo Pareto menyatakan bahwa suatu pengalokasian sejumlah sumber disebut efisien jika dalam suatu realokasi tidak ada seorang individupun yang dapat memperoleh kesejahteraan tanpa mengurangi kesejahteraan orang lain.
c. Mazhab Cambridge
Menurut Alfred Marshall, selain oleh biaya-biaya, harga juga dipengaruhi oleh unsur subjektif lainnya, baik dari pihak konsumen (misalnya pendapatan) maupun dari pihak produsen (misalnya kondisi keuangan perusahaan). Harga terbentuk sebagai integritas dua kekuatan di pasar yaitu penawaran dari pihak produsen dan permintaan dari pihak konsumen. Jadi dalam jangka panjang perusahaan tidak memperoleh laba ekonomi yang tinggi sebagaimana dikuatirkan para penentang aliran klasik. Kaum neo klasik percaya bahwa bentuk pasar persaingan sempurna merupakan bentuk pasar yang paling efisien yang akan menguntungkan semua pihak. Perusahaan memperoleh laba normal yang besarnya laba hanya cukup untuk bertahan di pasar. Para konsumen dapat membeli barang dalam jumlah cukup dengan harga rendah. Sumber-sumber daya dimanfaatkan secara optimum dan dialokasikan secara efisien. Dampak Pigou adalah suatu stimulasi kesempatan kerja yang disebabkan oleh meningkatnya nilai riil dari kekayaan likuid sebagai konsekuensi dari turunnya harga-harga. Sewaktu nilai kekayaan riil naik maka konsumsi akan naik yang berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan terbukanya kesempatan kerja baru.

10. Historis
Menurut aliran historis, pengalaman sejarah memberikan cukup banyak bukti bahwa motif orang dalam bertindak tidak hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, tetapi juga didorong oleh etika dan impuls-impuls lainnya. Masyarakat harus dianggap sebagai suatu kesatuan organisme tempat interaksi sosial berkait dan berhubungan antarindividu sehingga kegiatan masyarakat dilandaskan pada suatu sistem yang menyeluruh yang mencakup semua organisme dalam kehidupan bermasyarakat sebagai suatu keseluruhan. Aliran historis sepakat untuk meminta campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Intervensi pemerintah diharapkan mampu membawa proses ekonomi pada tujuan-tujuan sosial dan ekonomi yang diinginkan bersama. Menurut aliran historis prinsip-prinsip ekonomi dipengaruhi oleh adat istiadat, tradisi, agama, nilai-nilai dan norma-norma lingkungan setempat sehingga tidak berlaku secara universal seperti yang dinyatakan oleh kaum klasik dan kaum neo klasik.

11. Institusional
Tokohnya adalah Thorstein Bunde Veblen. Veblen menilai pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat. Ada sedikit persamaan antara aliran institusional dengan aliran historis, sebab keduanya sama-sama menolak metode klasik. Akan tetapi, dasar falsafah dan kesimpulan-kesimpulan politik kedua liran tersebut berbeda. Aliran institusional menolak ide eksperimentasi sebagaimana yang dianut oleh aliran historis. Begitu juga pusat perhatian, aliran institusional terhadap masalah-masalah ekonomi dalam kehidupan masyarakat juga berbeda. Veblen mengemukakan bahwa motivasi konsumsi tidak hanya berdasarkan rasio melainkan emosi. Orang berusaha mengejar leisure atau kesenangan dengan membeli barang-barang yang digunakan untuk pamer (conspicuous consumption). Veblen juga mengemukakan bahwa pada masa sekarang laba dan keuntungan sebagian tidak lagi diperoleh melalui kerja keras dengan menciptakan barang-barang yang disukai konsumen, tetapi lewat “trik-trik bisnis”. Produksi ini disebutnya Production for Profit sebagai pertentangan dari Production for Use. Selain itu, banyak para pengusaha yang memiliki modal besar dan menguasai sejumlah perusahaan tetapi tidak ikut terjun langsung dalam kegiatan operasional perusahaan. Golongan ini disebutnya sebagai absentee ownership. Tokohnya yang lain adalah Gunnar Myrdal dan Joseph A. Schumpeter. Schumpeter menekankan mengenai pentingnya kewirausahaan untuk membangun perekonomian.

12. Keynesian
Keynes menyatakan dalam perekonomian yang yang lebih maju, masyarakatnya telah mengenal tabungan sehingga sebagian dari pendapatan akan mengalami kebocoran (leakage). Kebocoran tersebut berbentuk tabungan sehingga arus pengeluaran tidak lagi sama dengan arus pendapatan. Dengan demikian, permintaan agregat akan lebih kecil dari penawaran agregat. Keynes merekomendasikan agar perekonomian tidak diserahkan begitu saja pada mekanisme pasar. Hingga batas tertentu, peran pemerintah justru diperlukan. Dalam situasi terjadi gerak gelombang kegiatan ekonomi, pemerintah dapat menjalankan kebijakan pengelolaan pengeluaran dan pengendalian permintaan efektif dalam bentuk “kontra-siklis” dan “anti-siklis”. Para pakar keynesian juga menghasilkan teori-teori yang menerangkan dan mengantisipasi fluktuasi ekonomi dan stabilitas perekonomian serta teori-teori yang berhubungan dengan pertumbuhan dan pendapatan. Tokohnya antara lain Simon Kuznets dan Paul Samuelson.

13. Post Keynesian
Post keynesian adalah sekumpulan ahli yang menyatakan berbagai pandangan tentang ekonomi makro modern yang berakar dari pemikiran keynes namun sudah berkembang lebih jauh. Teori yang mereka kembangkan hanya dibicarakan sepintas oleh keynes tetapi tidak dibuat dalam model formal. Terkadang pemikiran post keynesian ini begitu berkembanganya sehingga ada yang lari atau bahkan secara implisit mengabaikan unsur-unsur pokok teori umum keynes. Lima hal yang perlu diperhatikan dari pemikiran post keynesian adalah (i) mereka cenderung berpendapat bahwa penyesuaian lebih banyak terjadi lewat penyesuaian kuantitas daripada harga; (ii) pendistribusian pendapatan antara laba dan upah memainkan peran penting dalam mempengaruhi keputusan investasi; (iii) ekspetasi dan laba adalah penentu utama perencanaan investasi; (iv) unsur kelembagaan kredit dan keuangan berintegritas mempengaruhi siklus ekonomi; (v) fokus pembahasan teori post keynesian adalah menjawab pertanyaan mengapa perekonomian tidak berjalan dengan mulus seperti asumsi klasik.

14. Monetaris
Pada prinsipnya kaum monetaris mengajukan proposisi yaitu perkembangan (kejutan) moneter merupakan unsur yang penting dalam perkembangan produksi, kesempatan kerja, dan harga-harga; bahwa pertumbuhan jumlah uang beredar merupakan unsur yang paling dapat diandalkan dalam perkembangan moneter; dan bahwa perilaku otoritas moneter menentukan pertumbuhan jumlah uang beredar dalam gelombang konjunktur. Penekanan pokok pandangan monetaris terletak pada stok uang. Perubahan dalam jumlah uang beredar sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat inflasi dan GNP riil dalam jangka panjang. Walaupun laju pertumbuhan uang sangat menentukan unjuk kerja GNP namun dampaknya sendiri berlangsung setelah beberapa waktu (adanya lag). Jangka waktu itu sulit diprediksi secara pasti. Lamanya lag bisa enam bulan (short lag) dan bisa sekitar dua tahun (long lag). Moneteris menyimpulkan bahwa secara umum laju pertumbuhan uang yang tinggi akan menyebabkan booms dan inflasi. Sebaliknya, penurunan dalam laju pertumbuhan uang dapat menimbulkan resesi dan kadang-kadang bahkan juga deflasi.

15. Aliran Sisi Penawaran
Supply Siders beranggapan dengan mendorong penawaran agregat ke kanan, output akan bertambah dan harga-harga akan semakin menurun. Cara yang dianjurkan untuk menggeser kurva penawaran ke kanan antara lain: (i) mendorong masyarakat untuk lebih rajin menabung; (ii) menurunkan tingkat pajak; (iii) mendorong masyarakat untuk lebih berani mengambil risiko dalam berusaha; (iv) mendorong mobilisasi angkatan kerja; (v) mendorong masyarakat untuk lebih banyak bekerja di sektor riil. Selain itu, pengeluaran pemerintah harus berimbang dengan penerimaan (balance budget). Anggaran berimbang ini agar pengeluaran pemerintah diturunkan sampai posisi persentase tertentu dari GNP. Ini berarti pengeluaran pemerintah hanya mungkin naik jika GNP naik.
a. Kelompok Utama
Kelompok ini menekankan perlunya insentif pajak dalam memacu pertumbuhan ekonomi lewat dampaknya terhadap tabungan dan investasi. Kelompok ini banyak menganalisis dampak perubahan pajak terhadap penawaran labor serta dampak program pengaman sosial terhadap jumlah tabungan. Tokohnya Martin Feldstein dan Michael Boskin
b. Kelompok Radikal
Kelompok ini menyatakan bahwa pemotongan pajak akan memberikan dampak positif terhadap tabungan, investasi dan penawaran tenaga kerja serta penerimaan total yang lebih banyak dari pajak. Program pemotongan pajak akan memberi dampak positif dalam meningkatkan laju pertumbuhan output dan mengurangi inflasi. Tokohnya Arthur Laffer dan George Gilder.

16. Rational Expectations
Aliran Ratex ini menggunakan beberapa preposisi, antara lain: bahwa orang atau unit-unit ekonomi akan membuat perkiraan (ekspektasi) secara rasional; bahwa orang tidak membuat kesalahan-kesalahan secara sistematis dalam ekspektasi mereka; bahwa orang akan menggunakan informasi yang ada padanya secara efisien; bahwa orang akan bereaksi secara rasional terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan demi kepentingan pribadi masing-masing. karena tingkah laku ekonomi masyarakat dipengaruhi oleh pengharapan atau ekspektasi mereka, kegiatan memprediksi peristiwa-peristiwa ekonomi yang akan terjadi di masa depan dipandang sebagai perbuatan yang sia-sia. Mereka percaya bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki suatu keadaan sebab setiap orang sudah melakukan yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Misal ada kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah dan masyarakat sudah mendapat gambaran tentang dampak kebijakan tersebut terhadap kesejahteraan mereka. Akibatnya, dengan memperhatikan kendala-kendala yang ada serta biaya-biaya yang harus dikeluarkan, masing-masing mereka akan bertindak dengan cara yang sebaik-baiknya agar dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya atau menghindari kerugian yang mungkin timbul sebagai dampak pelaksanaan kebijakan yang akan diambil tersebut. Sebaiknya pemerintah tidak menjalankan kebijakan yang rumit dan berbelit-belit karena hasil dari suatu kebijakan yang kurang diperhitungkan dengan baik bisa menghasilkan sesuatu yang bertentangan dari maksud semula. Oleh karena itu, para pakar ratex meragukan bahwa para ahli ekonomi cukup tahu bagaimana masyarakat akan bereaksi terhadap perubahan-perubahan kebijakan yang dilakukan sebab reaksi masyarakat akan sangat tergantung pada ekspektasi mereka.

Maret 17, 2010 - Posted by | ekonomi | , , , , ,

2 Komentar »

  1. tidak punya daftar pustaka

    Komentar oleh surayya | Oktober 2, 2015 | Balas

    • Maaf diolah dari berbagai sumber termasuk materi kuliah
      Jadi mohon maaf tidak ada daftar pustakanya

      Komentar oleh ericktristanto | Mei 29, 2016 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: