Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

CONTENDING PERSPECTIVE ON INTERNATIONAL POLITICS

  1. Realisme

Pandang realisme dalam politik internasional memegang beberapa asumsi yaitu:

–          Sistem internasional berada dalam kondisi permusuhan yang konstan antarnegara

–          Tidak terdapat lembaga internasional di atas negara yang memiliki otoritas untuk mengatur interaksi antarnegara

–          Dalam menjaga keamanan nasional, tiap negara berusaha mendapatkan sebanyak mungkin sumberdaya

–          Negara-negara adalah kesatuan aktor yang bergerak masing-masing menuju pada kepentingan nasionalnya. Tidak ada aliansi atau kerjasama jangka panjang

–          Selain dari kepentingan nasionalnya, tiap negara juga mengutamakan keamanan nasional dan keberlangsungannya

–          Hubungan antara negara-negara ditentukan oleh tingkat kekuatannya yang terutama diukur dari militer dan kapabilitas ekonomi

–          Degradasi moralitas dan nilai-nilai pada hubungan internasional menimbulkan perjanjian yang asal-asalan, kekakuan diplomasi dan eskalasi konflik

–          Negara-negara berdaulat adalah aktor utama dalam sistem internasional dan perhatian khusus diberikan pada kekuatan besar di mana mereka paling berpengaruh pada panggung internasional.

–          Lembaga internasional, organisasi non-pemerintah, perusahaan multinasional, individual dan aktor seminegara atau transnegara yang lain dipandang kurang berpengaruh

Pada dasarnya kaum realis percaya bahwa manusia tidak sepenuhnya baik melainkan lebih berpusat pada diri sendiri dan berusaha lebih unggul. Perspektif ini yang dibagikan oleh Thomas Hobbes memandang alam manusia sebagai egosentris dan suka berkonflik kecuali dalam kondisi mereka harus hidup bersama.

Kaum realis percaya bahwa negara-negara sangat agresif dan/atau terobsesi terhadap keamanan, dan bahwa ekspansi teritorial hanya dapat dihambat oleh kekuatan yang menentang. Pembangunan agresif ini menimbulkan dilema keamanan di mana peningkatan satu kekuatan akan memicu ketidakstabilan yang lebih besar karena kekuatan yang menentang juga akan meningkatkan kekuatannya sebagai respon. Dengan demikian terjadi perimbangan kekuatan sehingga yang tercipta hanyalah keuntungan relatif.

Kaum realis percaya bahwa tidak ada prinsip-prinsip universal yang dapat menuntun tindakan tiap negara. Bahkan tiap negara harus waspada terhadap tindakan negara lain di sekitarnya dan harus menggunakan sebuah pendekatan pragmatis untuk menyelesaikan masalah yang mungkin timbul.

 

  1. Liberalisme

Tidak seperti realisme yang memandang negara sebagai kesatuan aktor, liberalisme mengijinkan keberagaman dalam aktor-aktor negara. Bahkan, pilihan akan bervariasi dari negara ke negara, bergantung pada faktor-faktor seperti kebudayaan, sistem ekonomi dan tipe pemerintahan. Liberalisme juga meyakini bahwa interaksi antara negara tidak terbatas pada politik, tapi juga ekonomi, apakah melalui perusahaan komersial, organisasi ataupun individu. Bahkan, terdapat banyak kesempatan kerjasama dan gagasan kekuasaan yang lebih luas seperti modal kebudayaan. Asumsi yang lain adalah bahwa keuntungan mutlak dapat tercipta melalui kerjasama dan saling kebergantungan sehingga kedamaian dapat tercapai.

 

  1. Idealisme

Idealisme meyakini bahwa setiap negara harus membuat filosofi politik dalam negerinya sebagai tujuan dari kebijakan luar negerinya. Idealisme juga ditandai oleh peranan yang menonjol oleh hukum internasional dan organisasi internasional dalam pembentukan konsepsi kebijakan. Salah satu prinsip yang paling terkenal dari pemikiran kaum idealis modern adalah teori perdamaian demokrasi yang memegang bahwa negara-negara dengan model pemerintahan demokratis yang serupa tidak akan berseteru satu sama lain. Idealisme lebih penting dari spektrum politik kiri-kanan. Kaum idealis dapat merangkum baik kampanye hak asasi manusia (yang biasa diasosiasikan sebagai politik kiri) maupun neokonservatisme Amerika (yang biasa diasosiasikan sebagai politik kanan). Idealisme memposisikan dirinya sebagai penentang realisme.

 

  1. Liberal Internasionalisme

Liberal internasionalisme adalah sebuah doktrin kebijakan luar negeri yang berpendapat bahwa negara-negara liberal harus campur tangan terhadap negara-negara berdaulat lainnya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan liberal. Bentuk intervensi bisa berupa kekuatan militer maupun bantuan kemanusiaan. Tujuan dari liberal internasionalisme adalah untuk mencapai struktur global sampai sistem internasional cenderung ke arah mempromosikan tatanan dunia yang liberal. Untuk tingkatan itu, perdagangan bebas secara global, perekonomian liberal dan sistem politik liberal semuanya diperkuat. Sebagai tambahan, kaum liberal internasionalis berupaya mengarahkan penguatan demokrasi untuk tampil secara global. Jika tercapai suatu waktu, maka akan menghasilkan sebuah “keuntungan perdamaian”, seperti negara-negara liberal yang memiliki karakteristik hubungan tanpa kekerasan, dan hubungannya antara demokrasi digolongkan oleh teori perdamaian demokrasi. Liberal internasionalisme menyatakan bahwa melalui organisasi multilateral, seperti PBB, akan mungkin menhindarkan dampat terburuk dari politik kekuatan dalam hubungan-hubungan antara negara-negara.

Pendukung tradisi kaum realis dalam masalah internasional, di sisi lain, bersikap skeptis terhadap liberal internasionalisme. Mereka berpendapat bahwa terdapat kekuatan – pengaruh diplomatik atau kekuatan militer (atau ancamannya) – yang akhirnya akan menang.

 

  1. Marxisme

Teori hubungan internasional marxisme adalah paradigma yang menolak pandangan realisme dan liberalisme terhadap konflik atau kerjasama negara. Marxisme berfokus pada aspek ekonomi dan material. Pada intinya mengungkapkan bagaimana ekonomi lebih penting dari masalah yang lain, yang memungkinkan untuk peningkatan kelas masyarakat sebagai fokus studinya. Kaum marxis memandang bahwa sistem internasional sebagai sebuah sistem kapitalis yang terintegrasi dalam upaya mengakumulasi modal. Dengan demikian, periode kolonial mengambil sumberdaya sebagai bahan mentah dan pasar terkurung untuk ekspornya. Sedangkan dekolonisasi membawa kesempatan baru dalam bentuk ketergantungan.

 

  1. Feminisme

Dalam konteks teori hubungan internasional penting untuk memahami bahwa feminisme adalah turunan dari aliran pemikiran yang dikenal dengan refleksionisme. Salah satu karya paling berpengaruh dalam feminisime hubungan internasional adalah Bananas, Beaches, and Bases karya Chyntia Enloe. Tulisan ini mencoba memetakan banyaknya peran wanita yang berbeda-beda dalam politik internasional seperti pekerja sektor perkebunan, istri diplomat, pekerja seks di pangkalan militer dan lain-lain. Poin penting dari karya ini adalah memberi tekanan bagaimana ketika melihat hubungan internasional dari perspektif kaum wanita memaksa untuk mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi pribadinya mengenai segala sesuatu tentang politik internasional.

Bagaimanapun adalah suatu kesalahan jika berpikir bahwa feminisme hubungan internasional semata-mata urusan mengenalkan banyaknya kelompok wanita yang berposisi dalam sistem politik internasional. Dari permulaannya, feminisme hubungan internasional selalu menunjukkan perhatian serius dengan memikirkan pria dan, terutama, maskulinitas. Memang banyak kaum feminis berpendapat bahwa disiplinnya tidak dapat memisahkan maskulinitas secara alamiah.

Seorang feminis ikut mencari bagaimana politik internasional mempengaruhi dan dipengaruhi baik oleh pria maupun wanita dan juga bagaimana konsep dasar yang ada di antara ilmu-ilmu hubungan internasional (seperti perang, keamanan, dan lain-lain) mengalami genderisasi. Kaum feminis tidak hanya mengaitkan diri pada fokus tradisional hubungan internasional seperti pada negara, perang, diplomasi dan keamanan, tetapi sarjana-sarjana feminis menekankan juga pentingnya melihat bagaimana gender menggeser ekonomi politik global saat ini.

Akhir Perang Dingin dan re-evaluasi teori-teori hubungan internasional selama 1990an membuka ruang genderisasi hubungan internasional. Karena kaum feminis terhubung secara luar dengan proyek kritik pada hubungan internasional, oleh dan sebagian besar kaum feminis mencoba mempermasalahkan politik konstruksi pengetahuan di antara ilmu-ilmu. Bagaimanapun pertumbuhan pengaruh dari pendekatan wanita-sentris dan kaum feminis dalam komunitas kebijakan internasional lebih mencerminkan tekanan kaum feminis liberal pada kesetaraan kesempatan bagi wanita.

  1. Konstruktivisme

Walaupun teori-teori menggambarkan pada poin ini mencoba mendominasi perdebatan selama seabad, konstruktivisme muncul saat ini sebagai pendekatan yang signifikan terhadap politik dunia. Tidak seperti banyak kaum postmodernis, kebanyakan kaum konstruktivis bekerja dalam premis teoritis dan epistemologis ilmu sosial, dan secara umum berupaya mengembangkan daripada meruntuhkan bidang perspektif teoritis yang lain. Sama seperti perspektif yang terangkum, konstruktivis tidak mengharuskan sebuah perspektif tunggal, melainkan membagikan beberapa ide-ide kunci. Pertama, lingkungan di mana negara-negara beraksi adalah sosial dan ideasional sebaik seperti material. Uang merupakan sebuah contoh yang bagus dari konstruksi realitas sosial. Jika uang terbatas terhadap logam seperti emas dan perak, kemudian uang memiliki nilai karena logam sendiri bernilai dan itu digunakan sebagai dasar bagi sebuah bentuk barter. Untuk alasan-alasan kesenangan dan mempeluas pasokan uang, pemerintah-pemerintah modern juga telah mendesain kertas berwarna dan logam-logam dasar untuk digunakan sebagai uang walaupun mereka memiliki nilai intrinsik yang lebih kecil; bahwa mereka memiliki nilai dan bisa digunakan sebagai alat tukar menengah adalah sebuah hasil dari konstruksi realitas ekonomi.

Penekanan mereka dalam konstruksi realitas sosial menantang dasar-dasar kaum materialis. Karena sosial memberi makna pada meterial. Banyak konsep-konsep dasar seperti anarki, kekuasaan, kepentingan nasional, dilema keamanan dan lain-lain dipandang sebagai terkonstruksi secara sosial daripada sebagai konsekuensi keengganan dari struktur-struktur sistem. Lebih lagi, kepentingan dan identitas – seperti mereka yang mendesain “kawan” atau “lawan” – adalah juga bangunan sosial, produk yang diperantarai oleh manusia bukan ditentukan secara struktural. Kaum konstruktivis juga telah menunjukkan bahwa ide-ide dan norma-norma terkadang bersaing, bergeser atau saling mengalahkan kepentingan-kepentingan material.

Pada poin ini, kontruktivisme kurang dipandang sebagai teori daripada sebuah pendekatan. Konstruktivisme telah digunakan menganalisis asal mula, perkembangan, dan konsekuensi dari norma-norma dan budaya-budaya pada wilayah yang luas dari tatanan-tatanan. Konstruktivisme mungkin menawarkan sebuah kontribusi spesial yang bermanfaat pada perdebatan-perdebaan yang masih dilakukan. Pendekatan kaum konstruktivis adalah secara relatif model tahun-tahun saat ini, tapi sungguh-sungguh menanggung kesamaan terhadap ilmu sosial yang tinggi yang kita semua rasakan lingkungan kita melalui kacamata sistem-sistem kepercayaan. Dengan demikian, “yang menentukan perilaku kita adalah seperti apa dunia yang kita pikirkan bukan seperti apa sesungguhnya”. Ini juga mengilustrasikan kecenderungan dari setiap generasi ilmuwan-ilmuwan politik untuk menemukan kembali, jika tidak semua roda, paling tidak bagian-bagian darinya.

November 9, 2011 - Posted by | politik | , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: