Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

RELIGIOUS CIVIL WAR

Dua agama mayoritas di dunia, Kristen dan Islam, merupakan ideology, ajaran, paham yang sangat kuat mempengaruhi pengikutnya. Tak sedikit orang yang menjadi fanatic radikal terhadap kedua agamanya ini. Sejarah masa lalu mencatat akibat buruk dari kefanatikan kedua pengikut agama ini. Ya, sejarah kelam tersebut adalah Perang Salib. Perang yang berlangsung hampir dua abad ini mempertemukan dua pengikut agama terbesar, Kristen dan Islam dalam memperebutkan Tanah Suci Palestina dan Jerusalem.

Namun di balik itu, kedua agama ini juga mengalami intrik internal dalam agama masing-masing. Perpecahan dalam Kristen dan Islam yang disebabkan oleh banyak factor tak sedikit yang diselesaikan dengan cara kekerasan atau perang. Perpecahan yang berujung perang saudara dalam satu agama (baik Kristen maupun Islam) ini hampir tidak terjadi dalam agama-agama lain. Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit merekam sejarah perang saudara agama ini.

Pembahasan pertama tentang perang saudara dalam agama Islam. Dalam pemerintahan khalifah Usman (644-656) mulai terjadi hal-hal yang kurang baik, banyak pejabat tinggi pemerintahan berasal dari keluarganya. Golongan yang kurang senang berpendapat bahwa agar keturunan Nabi Muhammad-lah yang sebaiknya menjadi khalifah. Golongan inilah yang disebut Syi’ah. Sedangkan golongan yang menolak dan didukung oleh keluarga Ummaiyah disebut Sunnah atau Sunni. Usman yang berasal dari keluarga Ummaiyah terbunuh oleh kaum pemberontak, lalu terpilihlah Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah (656-661). Ia adalah menantu Muhammad, suami Fatimah. Golongan sunni yang bermarkas di Damsyik, Syria tidak mengakuinya sehingga terjadi perang. Perang ini disebut Perang Shiffin dan merupakan perang saudara pertama dalam sejarah Islam. Sebelum Perang Shiffin, umat Islam pernah mengalami perang saudara dalam skala kecil. Perang Jamal, namanya, adalah perang antarpengikut Ali sendiri di mana sebagian memberontak karena tidak puas dengan kepemimpinan Ali. Perang Jamal dipimpin oleh Thalhah dan Al Zubair. Keduanya adalah sahabat Muhammad. Perang Shiffin sendiri dipimpin oleh Mu’awiyah, kepala keluarga Ummaiyah melawan kepemimpinan khalifah Ali. Perang ini dimenangi oleh Ali dan kelompok Shi’ahnya. Walaupun telah memenangi Perang Shiffin, Ali masih tidak bisa tidur nyenyak. Kelompok baru dalam agama Islam telah muncul. Golongan ini bernama Khawarij. Golongan Khawarij ingin menghabisi baik Ali maupun Mu’awiyah karena menurutnya telah menyimpang dari jalan Allah.

Ali kembali ke dalam medan perang memerangi kaum Khawarij dalam Perang Nahrawan pada tahun 658. Peperangan ini dimenangkan oleh Ali. Ini adalah perang terakhir Ali yang terbunuh pada tahun 661

Setelah kematian Ali, gelar khalifah jatuh pada Mu’awiyah karena tidak ada pada kaum Shi’ah orang sekuat Ali untuk menandingi Mu’awiyah. Mu’awiyah mendirikan kekhalifahan Ummaiyah. Selama kekhalifahan inipun tak menghentikan perlawanan kaum Shi’ah untuk merebut gelar khalifah. Akhirnya pada tahun 750, Abbas Al Safah berhasil merebut kekuasaan keluarga Ummaiyah dan mendirikan kekhalifahan Abbasiyah. Peperangan saudara dalam Islam dapat dipelajari lebih mendalam dalam buku Dinasti-Dinasti Islam.

Sekarang, setelah melihat perang saudara Islam, kita mempelajari perang saudara Kristen. Sama seperti Islam, Kristen mengalami perang saudara karena terjadi perpecahan dalam penafsiran ajaran Kristen ditambah lagi pengaruh politik dalam situasi saat itu. Perpecahan terbesar dalam agama Kristen terjadi pada abad ke-14 saat Martin Luther mengajarkan Protestanisme dalam agama Kristen yang jauh mengoreksi kesalahan-kesalahan ajaran Katolik.

Pembaruan yang dilakukan oleh kaum Protestan atau Kristen menimbulkan adanya golongan yang menentang yang disebut kaum Kontrareformasi. Paus, pemimpin agama Katolik, menyelenggarakan Konsili Trente (1550-1563). Konsili yang diadakan berulang kali mengambil banyak keputusan. Di antara keputusannya tersebut adalah tidak mengakui adanya ajaran Kristen yang didasarkan Kitab Injil dan peraturan-peraturan baru yang sifatnya koreksi dalam tubuh Katolik, seperti pembaruan organisasi gereja dalam tata sekolah (seminari). Dengan kontrareformasi diharapkan agar mereka yang telah masuk Kristen dapat kembali ke Katolik.

Pembaruan agama yang mendapat tantangan terjadi hampir bersamaan dengan soal politik dengan adanya negara-negara nasional yang berusaha memperkuat dirinya. Negara nasional adalah Negara yang diperintah oleh bangsa sendiri didasarkan adanya persamaan bahasa atau kebudayaan dan menjadi kuat karena kesadaran nasional. Factor agama dan politik tersebut menimbulkan peperangan di Eropa.

Di Perancis, pertikaian agama dipimpin oleh Henri de Navarre dari keluarga Bourbon yang beragama Protestan melawan raja-raja Perancis dari keluarga Cuise yang beragama Katolik (1562-1593). Setelah raja Perancis meninggal tanpa meninggalkan putra mahkota, orang yang berhak sebagai penggantinya adalah Henri de Navarre. Tetapi, rakyat Perancis menginginkan raja yang beragama Katolik, karena itu Henri meninggalkan agama Protestan dan menjadi Katolik dengan gelar Henri IV ( 1589-1610). Tetapi, untuk kaum Protestan ia mengeluarkan Edik Nantes (1589) yang berisi bahwa kaum Protestan tetap memperoleh kebebasannya menjalankan dan mengembangkan agamanya, serta dapat memiliki tempat-tempat pertahanan diri seperti di La Rochelle.

Kerajaan Spanyol mencapai puncak kekuasaan di Eropa di bawah Philip II (1556-1598). Daerah kekuasaannya mencakup Spanyol, negeri Belanda dan Austria. Untuk memperkuat kedudukannya, inkuisisi di Spanyol disatukan dengan kekuasaan raja, sehingga badan ini bukan hanya menindak mereka yang murtad saja tapi juga terhadap mereka yang dianggap menentang raja. KotaMadrid dibangun dan dijadikan pusat pemerintahan dan Portgal pun didudukinya (1580). Perancis yang merasa makin terjepit karena daerahnya di antara kekuasaan Philip II, bersekutu dengan Negara-negara Jerman dan Inggris yang juga tidak senang dengan politik Spanyol dan kontrareformasinya. Armada Spanyol dikerahkan untuk mematahkan kekuasaan Inggris, tetapi armada tersebut dihancurkan oleh armada Inggris (1588). Spanyol kehilangan inti kekuatannya dan peristiwa itu merupakan titik tolak bagi Inggris untuk menggantikan Spanyol dalam kekuatan laut.

Perang 80 tahun merupakan Perang Kemerdekaan bangsa Belanda yang berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Spanyol. Perang ini meletus akibat terjadinya penghancuran patung (beeldenstorm) yang dilakukan oleh kaum Calvinis (golongan Protestan yang lain) terhadap gereja Katolik yang dihadapi Spanyol secara keras (1568). Raja Philip dari Spanyol mengirimkan Alva yang kejam , tetapi rakyat Belanda melawannya di bawah Willem van Oranje, seorang pangeran dari Nassau.

Perang 30 tahun terjadi karena factor agama dan politik. Negara-negara Jerman yang menjalankan reformasi berusaha juga melepaskan diri dari kekuasaan Austria yang beragama Katolik. Ditinjau dari sifat dan peserta perang, Perang 30 tahun dibagi dalam 3 fase. Fase pertama (1618-1625) daerah Bohemia di bawah raja Friedrich melepaskan diri dari kekuasaan Austria yang diperintah oleh dinasti Habsburg. Dalam rangka mengadakan kontrareformasi Negara-negara Katolik membentuk pasukan Liga Katolik. Di bawah pimpinan panglima Tilly dan Wallenstein, pasukan liga berhasil mengalahkan tentara Bohemia.

Fase kedua (1625-1629), raja Christian dari Denmark yang beragama Protestan berusaha membela negara-negara Jerman yang seagama terhadap kekuasaan Austria. Tetapi, tentara raja Christian dapat dikalahkan oleh pasukan Tilly dan Wallenstein (1629).

Fase ketiga (1629-1635), tampil raja Gustaaf Adolf dari Swedia yang memperoleh dukungan dari Richelieu (Perancis) karena tidak menginginkan Austria menjadi Negara darat Eropa yang kuat. Sementara Gustaaf Adolf juga menginginkan daerah-daerah seberang Laut Baltik dan Jerman Utara. Di kota Breitenfield, dekat Leipzig tentara Gustaaf Adolf dapat mengalahkan tentara Tilly (1631), dan kemudian mengalahkan tentara Wallenstein (1632). Tetapi, kemudian tentara Liga Katolik dapat mengalahkan Gustaaf Adolf. Wallenstein yang merasa kedudukannya makin kuat mengangkat dirinya menjadi raja Bohemia, tetapi kemudian dibunuh oleh anak buahnya.

Perang 80 tahun dan Perang 30 tahun diakhiri dengan Perjanjian Westphalen (1648)

Januari 18, 2013 - Posted by | agama, politik, sejarah | , , , ,

2 Komentar »

  1. Perang agama pada dasarnya adalah dimana manusia saling membunuh satu sama lain, hanya untuk membuktikan siapa yang punya teman IMAJINER yang paling baik.

    Komentar oleh William | Juli 9, 2014 | Balas

    • Apakah menurut anda Tuhan adalah teman Imajiner?

      Komentar oleh ericktristanto | Juli 26, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: