Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Kristen dan Kejawen (Agama Jawa)

*Disadur dari buku “Menyongsong Sang Ratu Adil” karya Bambang Noorsena

 

Injil pertama kali diwartakan di Nusantara pada tahun 645. Syekh Abu Al-Armini dalam bukunya Tadhakur fiiha akhbar min al-kana’is wa al-adyar min nawahin Mishr wa al-iqthaaih, menyebut 707 gereja dan biara Kristen Syria yang tersebar pada abad ke-7, termasuk Fansur (Pansur), Barus di Sumatera. Selanjutnya, Abd ‘Isho dari gereja Syria Timur (1291-1319), yang menyebut juga Sumatera. Begitu juga catatan pejalanan Uskup Joa de Merignolli, selaku Duta Clement VI, menghadap ratu Kerajaan Sriwijaya tahun 1346 (YWM. Bakker, SJ. Sejarah Gereja Katolik Indonesia Jilid I)

 

Sehubungan dengan kenyataan itu, harus dicatat bahwa sebenarnya kekristenan masuk ke Nusantara hamper bersamaan dengan masuknya agama Budha pada abad ke-7. Namun, jejak yang ditinggalkan sulit dilacak pengaruhnya karena telah punah sebelum berhasil mengakar pada budaya masyarakat.

 

B.M. Schuurman dalam karya dogmatikanya, Pambiyake Kekeraning Ngaurip, menjelaskan tentang dalan tratasan. Yang dimaksudkan adalah “jalan keluar dari belantara dunia”. Untuk menuju ke sana atau konkretnya untuk menuju ke Allah, seseorang harus mengenal dirinya sendiri. “Demikian dalam Kawruh Jawa Kuno, sudah dibedakan antara makrokosmos (jagad besar, alam semesta) dan mikrokosmos (jagad kecil, diri manusia). Di antara keduanya yang lebih penting adalah mengenal dirinya sendiri.” Tulis Schuurman. Hal ini mengingatkan pada sebuah hadits Nabi: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

 

Salah satu ciri dominan dari Kejawen adalah unsur antinomisme. Istilah ini secara harfiah sepadan dengan ungkapan Jawa yaitu murang sarak yang berarti menentang syariah. Dalam Serat Sastra Gendhing, Sultan Agung mengatakan bahwa syariah adalah tataran ibadah awal yang bersifat lahiriah. Dalam Serat Wedhatama mengistilahkan sembah raga yang masih harus ditingkatkan pada tahapan yang lebih halus: sembah cipta, sembah kalbu,dan, sembah rasa. Suatu penjawaan dari jalan pendakian tasawuf: syariah, Tariqah, Haqiqah, dan, Ma’rifah. Suluk Malang Sumirang, menawarkan Islam batin: tanpa shalat, tanpa puasa, dan tanpa hukum halal-haram. Bagi Sunan Panggung, murid Syech Siti Jenar, orang yang sudah sampai rasa sejati, ibadahnya tidak bersifat fisik lagi, bahkan “shalat lahiriah siang malam, kemungkinan bisa menjadi pemberhalaan.”

 

Iman Kristen sebenarnya dapat disebut sebagai “ngelmu tuwa”. Bahkan ngelmu yang paling tuwa daripada segala ilmu, yang dalam Kejawen dianggap sebagai suatu kekeran (rahasia). Dalam bahasa orang Kebatinan, dalam kodrat ganda Kristus itu sekaligus ditemukan Gustining Jagad Cilik (Tuhan atas Mikrokosmos) dan Gustining Jagad Gedhe (Tuhan atas Makrokosmos)

 

Adapun pekabar-pekabar Injil mula-mula yang berasal dari pribumi antara lain Kiai Ibrahim Tunggul Wulung, Kiai Sadrach, dan Paulus Tosari.

Juni 18, 2014 - Posted by | agama, sejarah | , , ,

1 Komentar »

  1. mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith

    Komentar oleh John | Juli 31, 2015 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: