Ericktristanto’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Soeharto: Rise to Power

Nama Soeharto menjadi pilihan Presiden Soekarno menjadi pengemban Supersemar. Tentu tidak tanpa alasan, mengingat Presiden Soekarno tidak terlalu mempunyai banyak pilihan. Pada masa-masa tersebut, kekuatan Presiden Soekarno telah terdegradasi pada titik nadir. Kekuatan utama Presiden Soekarno telah dengan sistematis dihancurkan yaitu PKI dan Angkatan Darat. PKI tidak pelu kita diskusikan di sini. Dengan gagalnya Gerakan 30 September, PKI dipukul habis. Lalu mengapa Angkatan Darat? Ya, barisan Jenderal AD yang setia telah sedemikian rupa sehingga diadu domba dan sebagian bahkan dibunuh saat peristiwan Gerakan 30 September.

Kembali ke nama Soeharto. Bagaimana nama tersebut bisa muncul ke panggung politik utama Indonesia pada masa itu? Kita tahu bahwa masih banyak barisan perwira senior selain Soeharto yang bisa ditunjuk sebagai pengemban Supersemar. Sebut saja Jenderal Murjid, Jenderal Pranoto, Jenderal Sarbini, Laksamana Muljadi, Mayjen Hartono, Komodor Sri Muljono Herlambang, dan lain-lain. Dengan peta politik yang berkembang pesat saat itu, bintang keberuntungan jatuh pada Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Komanda Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Apa yang menyebabkan Soeharto naik ke puncak kekuasaan?

Kita tahu bahwa dalam lingkungan tentara atau militer terdapat faksi-faksi yang mempunyai kepentingannya masing-masing. Sejak awal kemerdekaan tentara, khususnya Angkatan Darat, sudah terbelah dalam beberapa kelompok walaupun tidak tampak secara eksplisit. Kepentingan atau pembedanya itu bisa dari banyak hal, misalnya saja: lulusan KNIL atau PETA, Jawa atau Luar Jawa, Kiri atau Kanan.

Nah dalam hal inilah Soeharto tidak terjebak. Ya Soeharto tidak mengikuti arus politik dalam internal Angkatan Darat. Ditambah lagi perannya yang sangat besar dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 membuat dia karirnya melesat. Orang yang paling berjasa dalam karir Soeharto adalah Jenderal Gatot Subroto. Ketika Nasution hendak memecat Soeharto karena pelanggarannya saat menjadi Pangdam Diponegoro, Gatot Subroto-lah yang menyarankan untuk sekedar memutasi Soeharto Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat).

Titik balik Soeharto adalah penunjukkannya sebagai Panglima Mandala Operasi Pembebasan Irian Barat. Mengapa Soeharto yang dipilih sebagai Panglima Mandala padahal ia pernah hamper dipecat karena korupsi? Pertama, Presiden Soekarno memandang Soeharto sebagai perwira yang minim kepentingan. Soeharto tidak terlibat politik di lingkaran Soekarno sebagaimana perwira-perwira lain seperti Nasution dan Yani. Kedua, tidak ada resistansi dari setiap golongan yang memiliki kepentingan di Angkatan Darat. Nasution yang saat itu menjadi musuh utama Presiden Soekarno di Angkatan Darat melihat bahwa Soeharto juga bukan orang dekat Presiden Soekarno. Ketiga, pengalaman strategi Soeharto cukup mendukung operasi ini. Soeharto bukan perwira administrasi di belakang meja. Pengalamannya di Serangan Umum 1 Maret 1949 cukup diperhitungkan.

Keberhasilan Operasi Pembebasan Irian Barat mengantarkan Soeharto duduk sebagai Panglima Komando Strategi Angkatan Darat. Ketika Angkatan Darat membutuhkan seorang pemimpin saat terjadinya kekosongan komanda pasca Gerakan 30 September maka Soeharto-lah orang yang beruntung. Walaupun masih banyak perwira lain yang memiliki pangkat yang tinggi, namun perwira lain tidak memegang komando atas satuan strategis yang mampu mengerahkan pasukan. Perwira-perwira lain hanya memangku jabatan-jabatan administrasi ataupun komando-komando strategis tingkat daerah seperti Pangdam.

Nasution sendiri sebagai perwira paling senior setelah gugurnya Jenderal Achmad Yani dalam Gerakan 30 September sudah dipreteli terlebih dahulu oleh Presiden Soekarno dari jabatan-jabatan strategis. Melihat perkembangan situasi, Nasution segera mendukung Soeharto membentuk poros baru yang berhadapan dengan Presiden Soekarno terkait komunis. Walaupun masih banyak perwira yang siap mendukung Presiden Soekarno saat itu, namun demi menghindari perang saudara, Presiden Soekarno tak mengerahkannya. Dalam hal ini, Presiden Soekarno melakukan hal yang dapat dinilai sebagai suatu kesalahan yaitu melindungi PKI. Hal itu dapat dipahami karena Presiden Soekarno telah mengajarkan prinsip NASAKOM (Nasionalis Agama Komunis) sebagai bentuk demokrasi yang mewakili seluruh rakyat Indonesia. Namun sejak Gerakan 30 September makin banyak perwira yang berbalik menentang kebijakan NASAKOM ini.

Demikianlah proses di mana Soeharto merangkak naik dalam percaturan politik nasional hingga pada akhirnya mengemban Supersemar yang mengantarkannya menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia pada 1967 hingga menjadi Presiden definitive paling lama di Indonesia

Juni 12, 2016 - Posted by | politik, sejarah | , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: